Berobat ke Ustad Dhanu

Semua ini berawal dari sebuah acara kumpul keluarga untuk menjelaskan masalah warisan dari kakek-nenek dari Bapakku.

Setelah masalah pembagian warisan itu beres, Budeku sendiri bilang ke aku dan Ibuku.

Beliau bilang bahwa di Jogja itu ada pengobatan Ustad Dhanu yang di mana bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan memperbaiki hati.

Sekilas tentang Ustad Dhanu

Sebenarnya klinik ini juga ada acara TV-nya yang biasanya ada di MNC TV yang namanya Siraman Qolbu Bersama Ustad Dhanu.

Menurut Google, acara tersebut disiarkan setiap hari di MNC TV pada jam 5 pagi sampai dengan jam 6.30 pagi.

Acara ini sebenarnya sudah tergolong agak lama tayang di TV, dari aku SMA sudah ada kalau gak salah, aku SMA itu sekitar tahun 2010-2013.

Sehingga semestinya lumayan banyak orang yang mengetahui Ustad Dhanu itu siapa.

Kembali lagi ke Budeku…

Katanya Budeku itu pernah lihat orang yang berobat ke Ustad Dhanu dengan keluhan yang kurang lebih hampir sama dengan yang aku alami, yaitu skizofrenia.

Budeku cuma bilang ke aku untuk berusaha untuk lebih legowo dalam menghadapi segala sesuatunya.

Namun Budeku bilang ke ibuku untuk mencoba datang ke kliniknya dan mencoba untuk berobat ke sana, barangkali aja cocok sama aku.

Aku teringat dengan hasil browsingku beberapa bulan sebelumnya…

Aku browsing mengenai pengobatan Ustad Dhanu itu, dan ya tergolong mahal, di angka 5 jutaan, tapi harus antri dulu selama 24 bulan.

Ada opsi yang lebih murah, yaitu dengan berobat ke asistennya, yang di mana harganya 500 ribu sampai 1 juta rupiah.

Aku bilang itu ke Budeku, budeku sendiri gak percaya dengan apa yang aku bilang.

Beliau menyarankan aku agar mencoba berobat dulu saja ke Ustad Dhanu, Ibuku juga akhirnya memintaku untuk melakukan browsing ulang untuk mendapatkan info nomor yang bisa dihubungi, alamat, serta berapa harga yang harus dibayarkan untuk bisa berobat.

Beberapa hari kemudian

Beberapa hari setelah pulang dari acara keluarga itu, aku sudah melakukan browsing, namun ternyata hasil yang aku dapatkan merupakan hasil yang cukup aneh, karena nomor WA yang dicantumkan ke dalam masing-masing website itu berbeda-beda…

Aku menjadi ragu untuk berobat kesana…

Aku pun mencoba untuk menghubungi saudaraku yang tinggal di Jogja untuk mencarikan info yang valid.

Setelah 2 hari menunggu, ternyata saudaraku berhasil mendapatkan info yang valid mengenai pengobatan yang satu ini, terutama untuk nomor Whatsappnya sendiri, ini yang paling penting, karena dengan nomor Whatsapp itu aku bisa mendaftarkan diri agar bisa berobat ke sana.

Aku bilang ke Ibuku kalau aku sudah mendapatkan informasi yang valid mengenai pengobatan Ustad Dhanu ini.

Aku langsung disuruh ibuku untuk mendaftarkan diri, waktu itu masih merupakan tanggal 21 Agustus 2020.

Hal pertama yang aku tanyakan kepada nomor Whatsapp itu adalah, berapa biaya pengobatan yang dibutuhkan…

Ternyata hasil browsingku dengan apa yang dibilang dari contact person tersebut sama.

Untuk Ustad Dhanu sendiri membutuhkan biaya 5-6 juta rupiah, itu pun masih belum termasuk dengan obat-obatan herbal yang nantinya akan diberikan kepada pasien.

Waktu tunggunya pun juga lama, 24 bulan.

Bisa lebih cepat, namun harus membayar lebih mahal lagi.

Pokoknya yang paling tinggi itu paket Urgent, yang di mana 20-25 juta, itu bisa bertemu sewaktu-waktu dengan Ustad Dhanu-nya langsung.

Sementara ada pilihan yang lebih murah, yaitu dengan Ustad Joko yang di mana gak perlu menunggu begitu lama dengan harga yang lebih murah.

Harga untuk konsultasi dengan Ustad Joko sendiri itu hanya sekitar 700 ribu sampai dengan 1 juta aja, ini belum termasuk dengan obat herbal atau mungkin madu.

Aku tanya Ibuku, enaknya gimana? Ibuku sendiri langsung mengambil keputusan untuk berkonsultasi dengan Ustad Joko aja karena lebih murah dan waktu tunggu yang gak begitu lama.

Ya sudah, Ibuku sendiri kebetulan juga gak begitu repot dengan urusan dinasnya, yaitu mengajar di salah satu SMK di Surabaya.

Hal yang gak bikin repot adalah karena sekolahnya masih menggunakan daring sehingga gak perlu untuk datang ke sekolah dan selain itu ibuku biasanya hanya memberikan tugas-tugas aja, Ibuku juga gak bisa juga menggunakan Zoom sebagai media untuk belajar…

Ya maklum, sudah mendekati masa pension sehingga sudah gak begitu mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Pakai handphone Android aja kadang masih tanya aku gimana cara pakainya.

Oke, akhirnya ibuku langsung menyarankan tanggal 26 Agustus 2020 sebagai tanggal untuk berkonsultasi dengan Ustad Joko.

Tanggal daftarnya sendiri juga masih tanggal 21 Agustus, jadi masih ada waktu untuk mempersiapkan semuanya.

Berangkat ke Jogja

Tanggal 25 Agustus 2020 kami berangkat ke Jogja, kami berangkat jam setengah 10 pagi agar nantinya sampai Jogja gak terlalu sore karena kalau sudah sore pasti posisinya akan menantang matahari…

Tentu dengan kondisi seperti itu akan sangat gak nyaman sekali di mata.

Oke ini bakalan menjadi perjalanan paling jauhku, karena perjalananku yang paling jauh cuma Surabaya sampai dengan Telaga Sarangan aja.

Pastinya ini bakal menjadi sangat melelahkan, apalagi kondisinya ditambah hanya aku aja yang bisa nyetir mobil, kakakku sendiri gak bisa nyetir mobil…

Jadi perjalanan ini harus sesantai mungkin.

Selain itu juga, berhubung juga gak ngerti di mana aja ada pom bensin, jadi ya begitu tahu bensin tinggal setengah ada baiknya langsung isi lagi aja daripada nanti kehabisan bensin di jalan.

Di dalam perjalanan itu Google Maps juga terbilang lumayan kampret, karena tiba-tiba arah tujuan kami itu di arahkan ke salah satu pantai di Bali.

Semenjak melewati Ngawi selalu mengarahkan untuk keluar dari tol, namun akhirnya kami turunnya di Solo, gak tahu juga di gerbang tol apa namanya, yang jelas bukan Colomadu.

Ya karena masih belum sadar kalau kondisinya maps yang kami gunakan itu mengarah ke arah Bali, sehingga setiap ketemu dengan putar balik, pasti disuruh untuk putar balik.

Aku baru mengetahiu bahwa tujuan yang ada di maps itu mengarah ke Bali setelah aku sendiri melihat sendiri mengarahnya ke mana dan itu juga sudah sampai Klaten.

Mengesalkan sekali ini maps…

Ya sudah, kami pun melanjutkan perjalanan hingga ke Jogja.

Kami langsung mengarah ke klinik dari Ustad Dhanu sendiri yang ada di Jogja, tepatnya di daerah Wijilan, dekat sekali dengan Kraton Jogja.

Setelah mengetahui letak kliniknya di mana, kondisi mobil sedang berjalan, Ibuku langsung menyuruh untuk mencari penginapan, kondisi tempatnya itu gak memungkinkan untuk mobil kami berhenti…

… hal ini dikarenakan jalannya merupakan gang sempit sehingga kalau mobil berhenti akan menimbulkan kemacetan di gang tersebut, akhirnya kami terus jalan, sampai menemukan jalan yang relatif besar.

Untuk masalah ukuran jalan sendiri sebenarnya jika dipakai dua mobil simpangan sudah langsung penuh jalannya, mangkanya aku gak bisa berhenti, tapi Ibuku ya seperti gak bisa paham kondisi jalan yang seperti itu.

Setelah di jalan yang agak besar, bisa berhenti dengan nyaman, aku mulai mencari informasi di mana penginapan yang dekat dengan lokasi klinik dari Ustad Dhanu itu.

Ternyata ada yang cuma 120 meter aja dari klinik dengan harga 102 ribuan aja.

Ya udah, akhirnya kami ke penginapan tersebut.

Penginapan tersebut merupakan Reddoorz Near Wijilan.

Setelah sampai di sana, berhubung penginapannya masih sepi, jadi kami bisa diperlihatkan kamar-kamar yang tersedia, tapi kami cuma ditunjukkan kamar-kamar yang besar aja yang di mana bisa digunakan untuk bertiga.

Memang perlu extra bed, untuk bisa membuat kamar bisa ditiduri 3 orang, namun ya gak apa lah, daripada kamarnya kepisah-pisah malah nanti bisa bikin lupa bangun besoknya akhirnya telat ke tempat prakteknya Ustad Joko.

Pada malam harinya kami mau keluar untuk mencari makan malam sekalian mau membayar kamar, karena tadi sore kami disuruh menempati kamarnya dulu…

Kami bertemu dengan yang punya penginapan, katanya untuk masalah bayar itu besok aja waktu mau checkout, orangnya malah gak pengen kami bayarnya buru-buru…

Oke lah kami menurut saja…

Kami pun keluar untuk mencari orang yang jualan nasi goreng untuk kami makan malam sekaligus juga pesan 3 bungkus tambahan untuk dimakan besok pagi.

Keesokan harinya

Pagi hari jam 6 kami semua sudah terbangun…

Kemudian kami pun sarapan dengan nasi goreng yang sudah dibeli tadi malam.

Selama menunggu itu kami bergantian untuk mandi, karena kamar mandi juga cuma satu, selain itu kami pun juga menikmati taman yang ada di depan kamar kami…

Lumayan bisa mendapatkan udara segar tambahan, mungkin hal seperti itu susah didapatkan di Surabaya.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 7.30, kami pun bergegas untuk pergi ke Klinik Ustad Dhanu.

Tentu saja kliniknya masih belum dibuka, tapi kami sudah menunggu di depan klinik tersebut.

Karena kami takut kalau nantinya klinik tersebut ramai dan kami mendapatkan nomor antrian yang gak begitu bagus.

Kami pikir klinik tersebut akan dipenuhi dengan orang-orang yang ingin berobat, kami menunggu sampai jam 8 pagi, ternyata yang antri untuk berobat hanya 2 orang saja, aku dan satu orang lainnya.

Aku mencoba untuk berpikiran positif, “mungkin nanti yang berobat bakal ramai sekali, jadi Alhamdulillah kalau kami bisa dapet nomor antrian yang cukup bagus”

Akhirnya pendaftaran pasien pun dibuka, dan kami semua langsung masuk ke dalam klinik dan kemudian mendaftar.

Katanya orang yang jaga bagian pendaftaran, katanya itu pengobatannya dimulai waktu jam 9, ya sudah, lagipula juga masih antrian kedua, jadi nunggunya juga gak begitu lama.

Selama menunggu itu, aku menonton TV yang disediakan klinik.

Akhirnya giliranku

Jam menunjukkan 9.30, akhirnya tiba giliranku.

Entah kenapa kok Ibuku ya mengajak kakakku ikut masuk juga, ya walaupun memang yang “diobati” aku.

Aku kemudian menceritakan permasalahan yang aku hadapi.

Kemudian Ustad Joko memberitahu kalau mungkin sebelumnya itu aku merupakan orang yang benar-benar inginnya perfect dalam melakukan sesuatu.

Dan ya memang benar seperti itu kenyataannya, aku sendiri waktu sebelum sakit skizofrenia itu memang berusaha untuk perfect dalam melakukan pekerjaan, aku selalu berusaha untuk membuat setiap pekerjaan yang aku lakukan itu menjadi pekerjaan yang sempurna.

Beda seperti waktu aku kuliah dulu.

Waktu kuliah dulu itu yang penting tugas yang diberikan dosen itu bisa diselesaikan cukup.

Sementara waktu bekerja itu aku sampai memikirkan fitur-fitur yang sebenarnya gak perlu dipikirkan dan akhirnya aku sendiri diberi sakit skizofrenia ini.

Sementara untuk gangguan cemas itu kurang lebih karena aku kurang bisa untuk menjadi legowo dan ikhlas dalam berbagai kondisi.

Iya, memang terkadang aku merasa menyesal karena gak melakukan yang terbaik, sehingga hasil yang aku dapatkan gak maksimal.

Disarankan untuk mengikhlaskan semua yang terjadi, apapun hasilnya, karena yang sudah berlalu juga gak bisa diubah.

Gunakan setiap pengalaman yang terjadi itu sebagai pengalaman sehingga ke depannya bisa membuat versi yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Hal ini menimbulkan adanya jin atau iblis yang memanfaatkan kegundahanku untuk semakin diperparah.

Untuk berusaha gak begitu perfect bisa lah diusahakan, mungkin kalo cuma bisa 75-80% aja sudah cukup untuk bisa “diserahkan”, kemudian nanti improvisasi secara pelan-pelan, semua yang sudah aku kerjakan diperbaiki.

Karena memang dulu pada saat aku bekerja itu aku gak pengen untuk bekerja dua kali sehingga akhirnya aku berpikir secara mendetail.

Sementara untuk gangguan cemas ini yang mungkin lebih sulit dalam proses penyembuhannya menurutku, cuma memang harus dilakukan secara perlahan-lahan, gak bisa langsung begitu saja menjadi ikhlas.

Memang Ustad Joko sendiri mengakui bahwa itu merupakan hal yang gak mudah, tapi bisa pelan-pelan dilakukan.

Kemudian di akhir sesi konsultasi Ustad Joko mendoakan aku untuk bisa mengeluarkan jin-jin yang masih terkunci di dalam badanku.

Aku tahu betul bahwa ada jin yang ikut denganku karena memang aku sudah pernah lihat mereka karena memang dasarnya aku sendiri bisa melihat makhluk halus.

Ustad Joko sendiri juga tentunya aku beritahu kalau aku sendiri juga bisa melihat makhluk halus, bisa dengar suara mereka, kata Ustad Joko sendiri ya sebisa mungkin buat gak perhatiin semua itu, ya udah diabaikan aja, anggep aja gak ada.

Karena memang itu merupakan ilmu dari leluhurku dan ya memang leluhurku sendiri akrab dengan hal-hal gaib, bahkan beberapa di antaranya menguasai ilmu tenaga dalam dan mungkin itu juga menurun di aku.

Aku sendiri juga semenjak berobat ke psikiater, aku jadi gak begitu memperhatikan apa yang dilakukan oleh makhluk halus tersebut.

Entah mau ngajak ngobrol atau sekedar menampakan diri aku gak begitu peduli dengan mereka.

Kalau nanti mereka ganggunya sampai bikin badan berat atau mungkin bisa dibilang setengah kesurupan, ya aku ruqyah mereka.

Ya setelah itu sesi konsultasi telah berakhir.

Aku diberi obat-obatan herbal yang bernama Van Dhanu.

Obat tersebut dibuat dari 5 tanaman yang aku sendiri gak begitu paham itu tanaman apaan.

Aku juga diberi nomer Whatsapp dari Ustad Joko yang di mana nantinya Ustad Joko akan membalas sendiri pesan yang telah aku kirimkan.

Dan saatnya bayar membayar…

Biaya yang harus dikeluarkan adalah 1.5 juta rupiah.

Ini termasuk biaya bawah yang mereka janjikan kepada aku dan Ibuku waktu janjian dengan manajemen Ustad Dhanu.

Mereka bilang bahwa biaya konsultasi dan biaya untuk herbal dan madunya sendiri itu 1.5 sampai dengan 2 juta.

Walaupun aku sendiri pada akhirnya merasa gak begitu sreg dengan pengobatannya, ya sudah lah, yang penting sudah usaha buat berobat.

Terutama untuk mengatasi ketergantungan obat ini.

Oh iya hampir lupa, Ibuku sendiri juga mengutarakan tentang keinginannya supaya aku bisa terbebas dari obat-obatan yang selama ini diresepkan ke aku.

Kan obatnya untuk skizofrenianya kan diminum 2 kali sehari, disarankan untuk yang pagi itu dimundurkan saja beberapa jam, namun seiring berjalannya waktu harus terus dimundurkan hingga akhirnya cuma minum satu kali saja.

Padahal aku sendiri juga ada obat malam yang bisa bikin aku tidur nyenyak, ini yang bingung gimana cara mengatasi hal ini, karena emang diresepkannya di malam hari aja, menjelang tidur.

Dan bodohnya aku sendiri gak inget kalau aku punya obat yang harus diminum di malam hari, sehingga aku gak tanya juga gimana caranya untuk yang obat malam itu.

Ya mungkin itu aja sih yang bisa aku ceritakan di perjalananku menuju Jogja dalam mencari kesembuhan.

Semoga bisa memberikan manfaat untuk kamu yang mungkin ingin mencoba untuk berobat ke Ustad Dhanu atau Ustad Joko.

Terima kasih sudah mau membaca artikelku ini, maaf jika mungkin penjelasannya terlalu bertele-tele, soalnya lagi belajar gimana caranya melakukan storytelling…

Tinggalkan komentar