Umroh pertama selalu punya cerita.
Ada yang khusyuk, ada yang haru, dan ada juga yang—kalau diingat sekarang—agak bikin senyum sendiri.
Salah satunya adalah pengalaman yang aku alami sendiri, yaitu cari arah kiblat di Mekkah yang emang kalo dipikir-pikir aneh juga, tapi ya emang kenyataannya gitu.
Cerita ini aku tulis buat berbagi pengalaman aja. Siapa tahu cerita ini berguna buat kamu yang akan pergi umroh atau haji, jadi seenggaknya nggak perlu ngalamin kejadian yang aku alami ini, kisah ini bisa jadi pengingat kecil yang berguna.
Cari arah kiblat di Mekkah
Sampai Jeddah, Langsung Menuju Mekkah
Siang itu, rombongan kami tiba di Jeddah sekitar jam dua. Tanpa banyak waktu istirahat, kami langsung bersiap melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Kami mengganti pakaian ihram dan mengambil miqat di bandara, karena rencananya setibanya di Mekkah kami akan langsung melaksanakan tawaf.
Perjalanan darat menuju Mekkah ternyata jauh lebih lama dari yang aku bayangkan. Setelah berjam-jam di perjalanan, kami baru tiba di hotel sekitar jam sembilan malam.
Belum Masuk Kamar, Langsung Tawaf
Sesampainya di hotel, kami bahkan belum langsung masuk kamar. Koper hanya dititipkan di ruang tengah, lalu kami langsung berangkat ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf.
Perlu diketahui, rombongan kami terbagi menjadi tiga kloter. Aku berada di kloter ketiga, sementara kloter pertama dan kedua sudah lebih dulu menginap di hotel ini sejak sekitar seminggu sebelumnya.
Setelah tawaf selesai, kami kembali ke hotel hampir mendekati tengah malam.
Malam Pertama di Kamar Hotel
Setelah kembali dari Masjidil Haram, pembimbing akhirnya membagikan kamar. Aku mendapat kamar di lantai paling atas, sekamar dengan dua orang teman, Budi dan Andi. Lokasi kamar kami berdekatan dengan rooftop, jadi cukup praktis kalau ingin menjemur pakaian.
Begitu masuk kamar, hal pertama yang kami lakukan adalah membongkar koper dan mencari colokan. Ponsel kami benar-benar kehabisan daya setelah perjalanan panjang dari Indonesia hingga Mekkah.
Pertanyaan Sederhana yang Bikin Bingung: Arah Kiblat ke Mana?
Di tengah suasana kamar yang sudah larut malam, Budi tiba-tiba bertanya soal arah kiblat. Pertanyaan yang terdengar sepele, tapi justru membuat kami terdiam.
Kami sadar, selama perjalanan dan saat tawaf tadi, kami sama sekali tidak memperhatikan Masjidil Haram berada di arah mana dari hotel.
Awalnya sempat ada anggapan bahwa kiblat cukup menghadap ke barat, seperti di Indonesia. Tapi kami langsung menyadari bahwa di sekitar Masjidil Haram, arah kiblat setiap hotel bisa berbeda-beda.
Kami bertiga sempat kebingungan. Mau bertanya ke kamar sebelah sudah terlalu malam. Mau turun ke lobby juga terasa malas, ditambah kendala bahasa.
Coba pakai Google Maps
Di tengah kebingungan itu, aku teringat satu hal sederhana: Google Maps.
Aku membuka aplikasi tersebut, mencari lokasi Masjidil Haram, lalu menggunakan fitur kompas untuk melihat arah kiblat dari posisi kamar kami. Hasilnya belum tentu sempurna, tapi setidaknya itu adalah ikhtiar terbaik yang bisa kami lakukan saat itu.
Kami sepakat menggunakan arah tersebut untuk sholat malam, lalu berjanji akan mencocokkannya kembali saat sholat subuh bersama jamaah lain.
Sholat Subuh di Sekitar Masjidil Haram
Pagi harinya, kami turun ke depan hotel untuk melaksanakan sholat subuh. Bagi yang belum pernah melihat suasana sholat wajib di sekitar Masjidil Haram, pemandangannya sangat unik. Jalanan digunakan untuk sholat berjamaah, dan para pedagang pun ikut berhenti berjualan demi menunaikan sholat.
Saat iqomah dikumandangkan dan seluruh jamaah berdiri, kami memperhatikan arah shaf dengan saksama.
Dan di situlah kami merasa lega.
Arah kiblat yang kami tentukan semalam menggunakan Google Maps ternyata sama dengan arah sholat para jamaah.
Pelajaran Kecil dari Umroh Pertamaku
Setelah sholat selesai, kami bertiga hanya saling pandang dan mengucap syukur. Bukan hanya karena sholat subuhnya bisa dijalani dengan tenang, tapi karena kami belajar satu hal penting.
Dalam ibadah, niat baik memang yang utama. Tapi ikhtiar—sekecil apa pun itu—tetap memiliki arti. Umroh adalah perjalanan spiritual, tapi yang menjalani tetap manusia. Wajar jika bingung, lelah, atau ragu. Yang penting, tetap berusaha dan berserah diri.
Semoga cerita kecil ini bisa menjadi pengingat, terutama buat kamu yang akan menjalani umroh pertama kali.