
idkiswara.com – Sebagai manusia masing-masing dari kita tentu aja pernah mengalami masalah…
Terkadang, berawal dari hal itu pun kita bingung untuk mikir bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah itu…
… karena kebingungan itu, tentu aja kita perlu untuk cerita ke orang lain yang biasa disebut “curhat” (Curahan Hati).
Terlepas apa tujuan dari curhat itu…
Sebenernya ada 2 tipe orang curhat sih…
- Untuk mencari solusi
- Sekedar mau “buang sampah” pikiran
Namun ternyata untuk sekadar curhat itu nggak semudah itu…
… terutama untuk bikin orang yang lagi kita curhatin itu ngerti sama apa yang lagi kita curhatin.
Apalagi untuk kamu yang butuh curhat untuk cari solusi yang sedang kamu hadapi…
Beda kasus kalau kamu lagi mau buang sampah aja, nggak bakal begitu jadi masalah sih…
… walaupun kalau kamu sekedar mau buang sampah sekalipun ada baiknya kalau kamu ikutin beberapa langkah yang aku jelasin di bawah ini…
Kalau ngelihat betapa pentingnya ngerti tentang cara curhat yang nggak bikin bingung orang yang lagi dicurhatin, bisa dibilang kalau curhat itu ada seninya…
Ngomong-ngomong, kalau kamu ngerti tentang gimana seni dari curhat ini, tentunya bakal bikin tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater bisa lebih gampang buat tahu masalah apa yang sebenarnya lagi kamu rasain lho.
Tentu aja dengan mereka ngerti kondisimu sekarang, tentu bakal memengaruhi tindakan apa yang perlu diberikan ke kamu.
Walaupun pada dasarnya psikolog atau psikiater ini sudah tahu tentang bagaimana cara untuk menggali informasi penting yang diperlukan, cuma kadang ada beberapa hal yang mungkin bakal kelewatan buat ditanyakan.
Ngomong-ngomong, aku menulis artikel ini pada dasarnya menggunakan beberapa teknik yang diajarkan oleh Lex dePraxis pada Cara Nanya.
Cara curhat yang tepat
1. Ceritakan urutan kejadian dan situasi dengan jelas
Ada baiknya ketika kamu mau curhat ke orang lain itu kamu jelasin dulu bagaimana urutan kejadiannya.
Karena dengan mengetahui urutan kejadiannya, maka orang yang kamu curhatin ini bisa lebih ngerti tentang gimana ceritanya kamu bisa sampai di titik ini.
Kalau misalnya kamu harus curhat tentang masalah hubunganmu dengan pasanganmu atau mungkin orang-orang terdekatmu, ada baiknya kamu menceritakan tentang detil perilaku yang dia lakukan.
Kejadian ini pun biasanya bersifat eksternal, yang di mana bisa dirasakan oleh panca indera atau bahkan bisa diabadikan (seperti foto atau video).
Sebenarnya pada bagian ini sama sekali nggak ada yang namanya pertanyaan sih…
… jadi hanya sekadar pengamatan yang bisa kamu tangkap aja.
Oh iya, ada satu yang ketinggalan…
Ada baiknya kalau kamu cerita, urutan kejadiannya kalau bisa urut ya…
Karena banyak orang yang biasanya bakal bingung kalau alur waktunya lompat-lompat.
Aku sebagai orang yang sering dicurhatin pun kadang suka bingung kalau alurnya lompat-lompat…
… kayaknya otakku kalau diibaratin prosesor di komputer itu bisa diibaratkan kayak Intel Atom, hehehe….
2. Ceritakan sedetil mungkin
Selain urutan kejadiannya yang harus urut, ada baiknya kalau kamu cerita sedetil mungkin tentang urutan kejadian yang lagi kamu curhatin ke orang lain.
Detilnya sendiri bisa macam-macam juga sebenarnya…
Bisa dari detil masalah yang dialami, bisa juga dari detil dari apa yang mengganggu pikiranmu.
Karena kalau kamu bisa menceritakan urutan kejadiannya dengan urut serta detil, maka orang yang lagi kamu curhatin bakal lebih gampang untuk paham bagaimana posisimu.
Pada bagian ini pun sebenarnya juga masih belum ada yang namanya pertanyaan…
… kamu hanya menceritakan tentang detil-detil kejadian yang kamu alami.
3. Apa dampak dari kejadian tersebut
Dari kejadian yang kurang menyenangkan yang sedang kamu alami ini, kamu perlu tahu sesuatu…
“Apa dampak yang diberikan dari kejadian itu?”
Misalnya seperti ini…
“Dari kejadian dia menghilang dari kehidupanku, aku ngerasa kalau aku jadi kurang bersemangat untuk menjalani hidup”
“Karena bisikan-bisikan yang terus menggangguku ini, aku jadi merasakan stres yang berlebihan”
Kamu pun juga bisa melakukan evaluasi pemikiran atau mungkin kebingungan yang kamu alami di tahap ini.
“Evaluasi pemikiran atau kebingungan itu seperti apa yang dimaksud?”
Beberapa di antaranya kurang lebih seperti ini:
- Keluhan
- Perasaan
- Anggapan
- Penilaian
- Argumentasi
- Perspektif
- Keraguan
- Analisa
- Pertentangan dalam dirimu tentang orang lain
Sebenarnya ini pun nggak hanya salah satu dari poin-poin yang aku berikan sih…
Bisa aja ada beberapa poin yang bisa langsung dijadikan satu.
Oh iya, ini sifatnya internal…
… jadi yang ada di dalam dirimu, sehingga semua yang ada di bagian ini merupakan hasil pemikiranmu, tentu aja pada tahap ini kamu sama sekali nggak bisa untuk mengambil foto atau bahkan membuat video.
Masih bingung?
Kalau misalnya aku kasih kamu beberapa pancingan, gimana?
Oke, berikut ini merupakan beberapa pancingan yang mungkin bisa bikin kamu cerita lebih jauh…
- Apa salahku sampai dia ngelakuin itu ke aku?
- Mana ada sih orang yang mau digituin?
- Apa aku berlebihan sampai aku harus ngelakuin itu?
- Emang kami udah separah itu ya?
- Kenapa dia nggak kasih tahu dari awal tentang itu?
- Ini gak wajar, iya kan?
Sebenarnya beberapa pancingan ini itu untuk mereka yang lagi ada masalah dalam hubungan yang sedang dijalani…
Mungkin kamu juga bisa melakukan modifikasi pada pancingan pertanyaan itu sehingga kamu bisa mendapatkan pancingan yang sesuai dengan keadaanmu.
4. Apa harapan yang diinginkan
Nah ini nih sebenarnya titik di mana kamu bisa minta solusi sama orang yang lagi curhatin…
Kamu bilang apa yang sebenarnya kamu harapkan dari cerita yang sudah kamu ceritakan tadi.
Karena kamu sudah menjelaskan semua permasalahannya dengan detil, tentu aja orang yang lagi kamu curhatin ini bakal bisa kasih jawaban yang lebih sesuai dengan kebutuhanmu.
Pada dasarnya ini merupakan pertanyaan Apa, Kenapa, dan Bagaimana yang di mana diikuti dengan ekspektasi, goal, atau obyektif tententu yang kamu harapkan…
… nggak lupa juga kamu harus memberikan penjelasan target kondisi yang kamu harapkan.
“Bingung?”
Jangan khawatir, aku kasih juga beberapa contoh harapan yang bisa kamu utarakan.
| Pertanyaan A | Pertanyaan B |
| Apa yang harus aku lakukan? | Apa yang harus aku lakukan supaya dia mau lebih terlibat untuk bantu pekerjaanku? |
| Kenapa perasaanku ke dia jadi berkurang/hilang? | Kenapa perasaan aku jadi berkurang/hilang? Padahal aku berharap kalau aku bisa sayang ke dia seperti waktu awal hubungan kami dulu |
| Bagaimana cara menghadapi dia yang lagi emosi? | Bagaimana cara ngehadepin dia yang lagi emosi, supaya kami bisa ngomong baik-baik dan nemuin solusinya? |
Coba bandingkan antara pertanyaan A dengan B…
Aku cuma pengen kamu untuk bayangin aja sih kalau misalnya kamu jadi orang yang lagi dicurhatin…
Kira-kira kamu bakal bisa kasih saran yang lebih cocok buat orang yang curhat ke kamu kalau dikasih pertanyaan yang mana?
Antara pertanyaan A atau pertanyaan B, kira-kira kamu lebih gampang mikir jawabannya yang mana?
Tentu aja lebih cocok yang B kan?
Karena kalau misalnya kamu dikasih pertanyaan yang A, orang yang lagi curhat ini bisa dibilang menanyakan sesuatu yang global…
… sementara kalau pertanyaan yang sifatnya global, ini tentu aja bakal bikin bingung orang-orang yang lagi dimintain solusi…
… selain itu, mungkin bisa dibilang mayoritas orang juga bakal ngasih saran yang kurang tepat juga, walaupun sudah dikasih gambaran detil tentang kejadian yang kamu alami.
Nah, oleh sebab itu, ada baiknya kamu pun juga melakukan hal yang sama…
Yaitu dengan memberikan harapan yang spesifik tentang jawaban seperti apa yang bakal dikasih sama orang yang lagi kamu curhatin.
Hal yang perlu diperhatikan ketika curhat
Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
- Jangan memperpendek cerita
- Menulis pertanyaan pendek
- Memancing jawaban yang meleset atau mengambang (bagian ini bisa kamu lihat pada Pertanyaan Salah)
Dua hal itu nantinya akan memengaruhi jawaban yang nantinya akan diberikan orang kamu curhatin.
Karena informasi yang diberikan pun juga nggak lengkap, akhirnya saran yang diberikan menjadi kurang relevan dengan kondisi yang sedang kamu alami.
cuma, kadang malah ada beberapa kasus yang di mana kalau kamu bisa ceritakan lebih panjang, malah orang yang lagi kamu curhatin ini bisa mendapatkan informasi yang jauh lebih detil lagi.
Walaupun sebenarnya kalau mau cerita panjang lebar itu kita sebagai orang yang curhat capek banget ngomongnya…
… tapi coba kamu pikir deh…
“Capek cerita tapi bisa dapat solusi yang lebih tepat”
atau
“Nggak capek cerita, tapi solusinya kurang pas”
Kamu lebih suka yang mana?
Kalau aku sendiri sih lebih suka cerita lebih panjang tapi bisa dapat solusi yang jauh lebih pas buat aku lakukan.
Kan kita dan orang yang kita curhatin ini udah kehilangan waktu juga kan…
Sementara kita curhat ini pada dasarnya kan berharap orang yang kita curhatin ini bisa memberikan solusi yang pas buat kita untuk keluar dari masalah yang sedang kita hadapi…
… dia pun juga udah meluangkan waktu, tenaga, dan juga pikiran untuk sekadar kasih solusi untuk kita…
Jadi kalau kitanya nggak bener dalam memanfaatkan kesempatan itu kan jadinya sia-sia lo…
Apalagi kalau kamu curhatnya sama orang yang udah profesional seperti psikolog atau psikiater…
Kan sayang banget kalau nggak dimanfaatkan dengan baik.
Contoh cara curhat
Contoh 1
“Sudah dua hari ini dia menghilang, nggak balas chat yang aku kirim sama sekali, aku telpon pun nggak diangkat. Sebelumnya sih emang kami ada pertengkaran kecil, mungkin dia masih sebel sama aku”
“Aku jadi nggak ngerti mesti gimana lagi, karena aku udah minta maaf waktu di pertengkaran pertama. Di chat juga aku udah ngalah dan bilang minta maaf lagi. Masa aku terus yang perlu kejar-kejar dia? Kan dia ada salahnya juga di kejadian itu, nggak cuma aku aja yang salah.”
“Apa yang bisa aku lakukan sekarang ya supaya kami jadi bisa ngobrol lagi? Karena diem-dieman kayak gini terus kan nggak sehat buat hubungan kami… aku nggak mau jalanin hubungan kayak anak kecil”
Contoh 2
“Mertua banyak ikut campur keputusan rumah tangga kami, anaknya juga kayak nurut-nurut aja. Malah dia lebih banyak diskusi duluan sama mamanya daripada sama aku, sampai anak kayaknya dibikin lebih nempel sama neneknya daripada sama papanya.”
“Ini bikin aku ngerasa nggak dihargai, baik sama istriku ataupun sama mertua. Mertua tinggal nebeng di rumah aku, tapi kayak pengen ngatur semuanya. Dia bebas naruh barang apa aja di meja kerjaku, sementara aku perlu minta izin kalau mau ngegeser barang mertuaku. Aneh banget nggak sih?”
“Bagaimana aku mestinya bersikap, supaya mertuaku nggak makin semena-mena gitu? Apakah aku perlu marah atau mugkin ngalah aja? Takutnya mertuaku makin kuat buat ambil alih keluarga kami. Aku mau aku dan istriku jadi raja dan ratu di rumah tangga kami sendiri, bukannya malah tunduk sama mertua”
Contoh 3
“Sejak seminggu ini aku udah membatasi diri dari mantan. Aku blokir Instagram-nya dia, tapi WhatsApp nggak, karena ada urusan kerjaan sama dia. Di kantor juga cuma interaksi sebatas proyek bareng. Dia berusaha ngajak ngobrol panjang sih, tapi akunya malah jawab pendek aja, terus bilang sibuk mau nyelesain kerjaan.”
“Aku bisa sih nerusin kondisi ini, tapi jujur susah banget. Di satu sisi aku kangen sama dia, dan aku pun juga ngerasa kalau aku jahat banget sama dia. Di sisi lain aku bangga juga akhirnya bisa tegas sama diri sendiri, sesuatu yang aku nggak bisa lakuin selama kami pacaran. Aku ngerasa hebat, tapi kadang ngerasa takut suatu saat gak kuat karena tiap hari ketemu sama dia. Khawatir kalau aku bakal tergoda lagi kalau dia bujuk-bujuk aku untuk balikan. Aku konflik gitu, apa emang mesti gini ya untuk bisa move on?”
“Gimana caranya aku jadi tetap kuat, nggak lemah, nggak merasa bersalah juga? Pengen banget bisa santai sama ketawa-ketawa lagi, aku bisa ke sana gak sih? Apa aku perlu pindah kantor aja kali ya supaya aku bisa ngerasa lebih lega?
Sudah dapat gambaran?
Kalau kamu baca tiga contoh yang aku kasih tadi, apa kamu masih ngerasa kesulitan?
Kalau misalnya iya, bisa kamu tulis di kolom komentar ya…
Cuma menurutku sih ini merupakan contoh yang cukup simpel.
Kamu cuma perlu susun secara rapi aja apa yang mau kamu curhatin.
“Tujuannya apa sih?”
Tentu aja supaya nggak cuma kamu sendiri yang paham sama apa yang terjadi dan apa yang kamu inginkan…
… tapi lawan bicaramu juga bisa paham, sama apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu harapkan dari lawan bicaramu.
Hal ajaib
Gak jarang lo kamu bisa dapat solusi terbaik yang kamu harapkan dari pikiranmu sendiri setelah kamu memetakan masalah dan target tujuan yang kamu harapkan.
Kadang lawan bicaramu belum komentar apa-apa, tapi otakmu tiba-tiba kasih sejumlah ide beserta langkah-langkahnya untuk mengatasi masalah yang lagi kamu hadapi.
Coba deh kamu bayangkan kondisi otak kamu yang lagi bingung itu seperti baju yang lecek.
Kemudian kamu setrika bajumu yang lecek itu sehingga menjadi rapi kembali…
Merapikan jalan cerita yang mau kamu curhatin itu kurang lebih seperti kamu “menyetrika” otak kamu yang lecek itu.
Dengan pikiranmu yang sudah “rapi”, maka kamu bisa berpikir lebih jernih sehingga kamu bisa lebih mudah untuk menemukan solusi pada masalah yang sedang kamu hadapi.
Pertanyaan salah
Tentu aja ada banyak jenis pertanyaan yang salah…
Mayoritas dari pertanyaan yang salah ini biasanya gara-gara sebuah pertanyaan pendek yang tentu aja ruang lingkup dari pertanyaannya dangkal sekali.
Tentu aja pertanyaan yang dangkal ini suka bikin bingung orang-orang yang dicurhatin dalam menentukan apa saran yang sebaiknya diberikan kepada orang yang lagi curhat sama mereka.
“Contohnya seperti apa?”
Nih, aku kutip beberapa macam pertanyaan yang Coach Lex jabarkan.
Oh iya, sejumlah pertanyaan yang memancing jawaban yang meleset atau mengambang yang tadi aku jelaskan di atas itu dimuat pada bagian ini.
Gimana ya
- “Pasanganku cuek, gak bisa dihubungi berhari-hari. Gimana ya?”
- “Gimana kalau mertua banyak ngatur dan istri juga nurutin mertua mulu?”
- “Udah jaga jarak, tapi masih sekantor sama mantan, mesti gimana?”
Apa pendapatmu
- “Apa pendapatmu tentang pasangan yang ngambekan?”
- “Istri lebih prioritasin keluarganya daripada pasangannya, pendapatmu gimana?”
- “Minta pendapat dong soal balikan sama mantan?”
Namanya apa
- “Bilangnya mau serius, tapi nggak ada kabar berhari-hari, itu namanya apa?”
- “Kalau istri lebih mentingin mamanya ketimbang suaminya, itu disebut anak mami ya?”
- “Aku ngerasa bersalah udah ngediemin mantan, apa aku bisa dibilang nggak bisa move on?”
Wajar gak sih
- “Wajar gak sih hilang komunikasi total selama dua hari?”
- “Kalau masa bodo sama mertua yang banyak ngatur, boleh gak ya?”
- “Benar atau salah sih ngeblokir mantan supaya gak tergoda lagi?”
Apa bedanya
- “Apa bedanya ngambek dan menenangkan diri?”
- “Gimana ngebedain mertua control freak dan mertua sentimen?”
- “Kita tahu dari mana lagi menyayangi diri atau lagi memaksakan diri?”
Gimana menghadapi
- “Gimana menghadapi pasangan yang nutup komunikasi?”
- “Mertua bertingkah penguasa, sebaiknya dihadapi seperti apa?”
- “Aku bingung cara menghadapi mantan yang ngerayu-rayu terus?”
A atau B
- “Pasangan ghosting. Mending bertahan atau bubar aja?”
- “Istri harusnya berpihak ke ibunya atau suaminya?”
- “Kalau masih kangen, baiknya balikan atau move on?”
Apa maksudnya
- “Dia gak bales chat, gak mau angkat telepon. Maksudnya apa ya?”
- “Kenapa istri dan mertua bersekongkol gak ngehargain aku?”
- “Mantan ngajak ngobrol terus, maunya apa sih?”
Coba ingat
Kualitas jawaban yang akan kita terima pada dasarnya sangat bergantung dari kualitas pertanyaan yang kita tanyakan.
Karena semakin pendek kita ceritain kasus yang sedang kita hadapi, semakin kita panda sadar melenceng keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi, otomatis akan semakin besar juga kemungkinan kita akan menerima jawaban yang di mana sama sekali nggak bantu kita kemana-mana…
… malah nggak jarang kalau kita pun akhirnya cuma muter-muter di situ aja.
Coba deh kamu ingat, seberapa sering kamu menggunakan jenis pertanyaan yang salah waktu curhat ke orang lain…
Ada baiknya kamu pun juga jangan kaget kalau kamu masih tersesat…
… yang bikin tersesat itu bukan gara-gara malu bertanya atau karena nggak ada orang yang bisa bantu kamu untuk keluar dari masalahmu…
Yang bikin kamu pada akhirnya tersesat adalah karena kamu keliru untuk memetakan masalah dan ini pun juga diperparah dengan kamu melontarkan pertanyaan yang salah.
Pro tips
Kalau misalnya kamu bingung tentang bagaimana urutan dalam bercerita, mungkin kamu bisa mengakalinya dengan cara menulis semua permasalahan yang sedang kamu hadapi.
Bisa dengan menulis di selembar kertas atau mungkin kamu juga bisa menggunakan notes yang ada di handphone untuk sekadar menuliskan urutan kejadian serta mungkin detil-detil lainnya.
Dengan menulis, maka kamu akan lebih mudah untuk memetakan permasalahanmu.
… terutama untuk beberapa masalah yang mungkin kamu ngerasa kalau kejadian itu merupakan kejadian yang sangat traumatis.
… jangankan untuk bisa menceritakannya, mengingat kejadiannya aja bisa bikin nangis.
Biasanya kalau udah ngerasain traumatis yang teramat sangat ini para psikolog pakai catatan untuk mengetahui bagaimana perasaan yang dialami pasiennya.
Selain itu dengan menulis, nantinya kamu bakal jauh lebih mudah untuk menata bagian-bagian yang ada di curhatanmu sesuai dengan urutan kejadiannya kalau emang kamu bingung untuk cerita dari mana.
Ketika kamu ngerasa udah selesai untuk menuliskan curhatanmu, kamu bisa mulai curhat ke orang yang menurutmu tepat untuk dicurhatin.
Kamu perlu ingat, bahwa ada baiknya kalau kamu curhat ke orang yang tepat, bukan orang yang dekat.
Karena dekat aja kadang nggak cukup untuk bantu kamu untuk mendapatkan solusi atas permasalahan yang sedang kamu hadapi.
Orang yang tepat ini sebenarya nggak harus psikolog atau psikiater kok…
Ada kemungkinan juga bahwa orang yang tepat ini merupakan orang yang sudah kamu kenal…
Oh iya, ada baiknya kamu perlu juga untuk lihat-lihat kepada siapa juga kamu curhat.
Ya kali kamu curhat tentang arsitektur ke akuntan, kan ya orang yang kamu curhatin bingung sama apa yang kamu ceritain…
Oh iya, mungkin kamu bakal tertarik buat ngerti bagaimana cara buat jadi tempat curhat.
Kesimpulan
Bisa dibilang kalau untuk sekadar curhat aja ada seninya…
Mungkin untuk kamu yang sudah biasa melakukan storytelling mungkin nggak bakal terlalu kesulitan untuk menceritakan permasalahan apa yang sedang kamu hadapi.
… hal yang menyedihkan adalah ternyata masih ada banyak orang yang di mana masih belum bisa menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi dengan baik.
Semoga dengan aku bikin artikel ini bisa bikin kamu dan juga orang lain yang juga baca artikel ini bisa lebih paham tentang cara agar orang lain bisa lebih paham tentang apa yang sedang kamu rasakan…
… selain itu juga, aku berharap kalau artikel ini bisa bikin kamu nantinya bisa mendapatkan solusi yang lebih tepat karena kamu bisa menjelaskan solusi seperti apa yang sesuai dengan harapanmu.
Yah…
Aku sadar bahwa artikel ini mungkin masih jauh dari kata sempurna…
Aku harap kalau kamu ada langkah lainnya yang lebih efektif, tolong tulis di kolom komentar ya, nanti kalau emang bener bisa bantu, bakal aku masukin ke artikel ini.
Terima kasih udah mau baca artikel ini.