Terima Apa Adanya

terima-apa-adanya

Menemukan orang yang mau menerima kita apa adanya, mau menerima baik buruknya kita secara keseluruhan memang sangatlah menyenangkan.

Walaupun pasangan sudah mengetahui semua baik buruknya kita, kalau kita gak ada usaha mau berubah, tentu pasangan akan menjadi eneg, capek, dan sakit hati.

Jadi sebenarnya gak ada orang yang benar-benar menerima kamu apa adanya, semuanya menginginkan kamu bisa menjadi orang yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Sementara itu, menyuruh untuk menerima apa adanya kadang menjadi salah satu contoh toxic positivity yang di mana sering dilakukan oleh orang-orang.

Sebenarnya statement seperti ini cenderung bikin problem tersendiri buat beberapa orang.

Namun juga ada saja orang yang gak begitu bermasalah dengan statement yang seperti ini, dan mau untuk menerima adanya.

Tapi bagaimana sih toxic positivity yang ditimbulkan dari permintaan untuk menerima apa adanya ini?

Simak ulasannya di bawah ini.

Terima apa adanya itu buruk

1. Menolak tanggung jawab atas pengembangan diri

Semua orang tentu saja memiliki tanggung jawab untuk terus melakukan pengembangan dirinya, gak peduli sudah seberapa tua usia dari orang tersebut.

Karena kita harus berkembang menjadi pribadi yang jauh lebih baik seiring dengan berjalannya waktu.

Kita nggak mungkin untuk tetap menjadi orang yang sama dalam waktu yang cukup lama, kita harus berubah menjadi orang yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Namun seringkali ungkapan “Ya harus terima apa adanya” ini diungkapkan oleh orang-orang yang menolak untuk melakukan pengembangan atas dirinya.

Yang membuat semua ini menjadi semakin masuk akal adalah karena melakukan pengembangan diri ini gak cuma sulit, namun gak jarang juga menyakitkan…

Memaksa orang untuk keluar dari zona nyamannya itu menyakitkan.

Tapi bagaimana kita mau berkembang kalau kita gak tertantang?

Seperti misalnya belajar bahasa baru, memulai bisnis baru, memperbaiki penampilan…

Memperbaiki penampilan yang dimaksud di sini misalnya adalah jika kamu merupakan orang yang gemuk, maka kamu harus melakukan diet untuk mengurangi berat badan kamu sehingga kamu bisa masuk ke berat badan yang ideal.

Atau mungkin bisa juga dengan kamu yang ingin untuk membentuk tubuh kamu supaya menjadi lebih berotot agar bisa menjadi lebih enak dipandang.

Atau mungkin yang paling simpel adalah dengan merubah dandanan yang sebelumnya cupu menjadi keren.

Itu bukan merupakan hal yang mudah lo untuk sebagian orang walaupun cuma harus berpenampilan yang keren aja.

Karena ada kebiasaan yang sudah terpatri dalam diri yang membutuhkan waktu untuk berubah, sehingga ini mungkin akan menjadi proses yang menyakitkan untuk orang yang menjalaninya.

Itu baru sekedar penampilan saja yang kurang lebih masih mudah untuk diubah, bagaimana jika yang harus diubah merupakan bagian dari otak kita?

Misalnya seperti kamu harus berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik, lebih sabar, lebih pintar, dan lain-lain…

Tentu saja proses perubahan yang ini mungkin akan memakan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan dengan perubahan secara fisik.

2. Membuat orang malas untuk berinteraksi denganmu

Statement “terima apa adanya” membuat orang berpikir bahwa kamu merupakan orang yang gak bisa diajak berdiskusi atau berkompromi.

Padahal dalam hubungan apapun, diskusi dan kompromi pasti diperlukan karena gak ada satu orang pun yang sempurna.

Gimana mau kompromi, orang baru dikasih tahu pengennya gimana udah langsung disuruh terima apa adanya.

Padahal kadang apa yang diminta itu bisa jadi baik untuk orang yang sedang diberitahu.

Karena diberitahu sekali aja jawabannya sudah seperti itu, gak sedikit orang yang akan menjadi malas untuk berinteraksi dengan orang tersebut, karena orang tersebut masuk ke dalam orang yang gak bisa dibilangi atau diarahkan.

Tentu aja dong orang menjadi malas untuk terus berinteraksi dengan orang yang gak bisa dibilangi atau diarahkan, apalagi jika itu merupakan sebuah arahan untuk membuatnya menjadi lebih baik.

Ya memang sih ada beberapa orang yang cukup sabar untuk bisa menerima apa adanya dan gak menuntut lebih.

Namun biasanya orang yang seperti itu biasanya sudah gak punya pilihan lain selain menjalani hidup dengan orang yang menyuruhnya untuk menerima apa adanya itu.

Jika dia memiliki pilihan untuk bisa bersama dengan orang yang lebih baik, yang bisa memberikan dia lebih, tentu aja dia akan mau bersama dengan orang yang mampu memberinya lebih, dibandingkan dengan orang yang memaksakan untuk menerima apa adanya.

3. Ignorance in disguise

Bedakan antara acceptance dan ignorance.

Statement “terima apa adanya” ini adalah sebuah bentuk ignorance yang disamarkan menjadi acceptance.

Ignorant atas kelemahan diri lalu menyamarkan dengan kalimat “Terima aku apa adanya lah!” berbeda dengan “Aku sudah berusaha untuk A, B, C, dan D, tapi masih belum bisa mendapatkan hasil yang sesuai. Gimana, masih mau menerima aku?”

Contoh yang bisa digunakan adalah ketika sedang mencari pekerjaan.

Ada orang yang belum mencoba untuk mencari kerja sudah bilang “Terima aku apa adanya”…

Namun ada juga yang mau untuk diarahkan melakukan berbagai macam cara untuk bisa mendapatkan kerja, sudah dilakukan, namun ternyata hasilnya sendiri masih belum terlihat, kemudian dia menanyakan “Apa kamu masih mau menerima aku dengan kondisiku yang seperti ini?”

Tentu saja sebagian besar orang akan jauh lebih respect kepada contoh yang kedua, karena dia sendiri sudah melakukan apa saja supaya bisa menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya, namun ternyata masih saja belum mendapatkan hasil yang terbaik.

Memang perlu kejelian untuk membedakan antara ignorance dan acceptance di sini, karena perbedaannya bisa dibilang sangatlah tipis.

Namun hal yang bisa membedakan adalah adanya usaha yang sudah dilakukan orang tersebut apakah bisa terus diterima pasangannya dengan kondisi yang sudah dilakukan.

4. Tidak mau menjaga diri

Biasanya terjadi kepada orang yang sudah menjalin hubungan dengan waktu yang lama, akhirnya gak mau menjaga dirinya sendiri agar tetap terlihat menarik di mata pasangan.

Begitu dirinya menjadi orang yang buruk rupa, entah menjadi sangat gemuk atau menjadi jelek dan dekil, begitu ditegur dia sendiri langsung berdalih “Kok kamu gak mau menerima aku apa adanya sih?”

Padahal dia sendiri menjadi gak menarik ya salahnya dia sendiri.

Tentu saja dengan kondisi seperti ini sangatlah menyebalkan.

Mungkin juga ada contoh kasus lainnya yang mungkin aku sendiri masih belum mengetahuinya.

Jika kamu mengetahui contoh kasus lainnya, kamu bisa menuliskan semua itu di kolom komentar.

Kesimpulan

Memang toxic positivity ini bukan merupakan hal yang baik jika diteruskan.

Karena akan merusak diri sendiri.

Sehingga orang-orang seperti ini ada baiknya untuk dihindari sih daripada semakin membuat diri ini menjadi semakin sakit hati karena merasa gak dihargai dan diminta untuk menerima pasangan dengan apa adanya, padahal pasangannya sendiri merupakan orang yang malas.

Yang jelas ada baiknya untuk berpikir ulang untuk terus menjalani hubungan dengan orang yang gak mau berkembang…

Apakah mau selamanya hidup dengan keadaan yang seperti itu?

Kalau memang iya mau maka silahkan lanjutkan, kalau ternyata gak mau, mungkin bisa memikirkan opsi-opsi lainnya, terutama jika masih belum menikah.

Salah satu opsi yang bisa dilakukan adalah dengan mencari pasangan lain yang mau untuk melakukan pengembangan diri secara terus menerus sehingga mampu menjadikan dirinya lebih dekat dengan kesempurnaan.

Mungkin orang yang tepat untuk melontarkan kalimat “terima apa adanya, dong” itu merupakan orang-orang yang mungkin ada cacat fisik yang sulit sekali untuk diubah…

Iya, mungkin hanya orang yang seperti itu aja yang bisa mengatakan hal yang seperti itu.

Mungkin segitu dulu saja untuk artikel kali ini.

Semoga bisa memberikan pencerahan baru untuk kamu.

Jika kamu memiliki uneg-uneg yang ingin disampaikan, kamu bisa sampaikan semua itu di kolom komentar.

Terima kasih sudah mau membaca artikel ini.

Tinggalkan komentar