Aku Butuh Kelas Cinta

kelas-cinta

Tata, aku ngerti kalau kamu gak ngedukung aku buat ngikutin Kelas Cinta.

Kamu lebih pilih kalau aku sendiri langsung terjun untuk cari cewek yang aku mau.

Tapi aku sadar kalau aku butuh buat ikutan Kelas Cinta.

Karena aku mau menjadi lebih baik lagi dan gak perlu kesandung di hal-hal yang gak mengenakan, terutama gak mengenakan perasaan.

Karena fungsi dari Kelas Cinta adalah untuk membantu agar orang-orang yang mereka latih bisa menjadi orang yang lebih dewasa dan lebih matang pemikirannya, sehingga gak perlu mengalami patah hati yang amat mendalam, selain itu juga gak perlu takut untuk salah dalam memilih pasangan.

Ya emang sih, walaupun ikutan Kelas Cinta itu bukan jaminan hidup menjadi lebih baik dibandingkan dengan yang gak ikut.

Namun ya memang dalam memilih pasangan itu gak bisa sembarangan, apalagi kalau tujuannya untuk menikah.

Karena kan kalau bisa sekali untuk seumur hidup saja menikahnya, gak perlu ada pernikahan lainnya.

Sementara kalau pasangannya gak cocok maka akan menjadi penyesalan seumur hidup.

Tata, aku ngerti kalau kamu pengennya aku langsung cari aja cewek yang mau aku ajak untuk menjalin hubungan, namun buat aku gak semudah yang kamu bayangkan.

Karena aku bukan sepertimu yang punya banyak pengalaman dalam mendekati cewek.

Iya, dulu kamu fakboy yang pintar untuk mendekati berbagai macam perempuan, sementara aku merupakan orang yang belum pernah sama sekali mengerti apa itu pacaran, hanya sekedar menjadi pengagum rahasia semata.

Aku lebih memilih untuk bisa dekat terlebih dahulu dengan cewek yang aku suka, ya walaupun itu perjuangannya juga “berdarah-darah”, sangat sulit.

Ada satu kata yang kamu ucapkan kepadaku yang masih aku ingat, kamu pengen aku untuk langsung mengajak orang yang dirasa cocok denganku untuk langsung menikah.

Namun di Kelas Cinta juga hal yang seperti itu sangatlah berisiko tinggi.

Karena sifat asli pasangan belum terlihat.

Ya memang gak sedikit orang yang kenal sebentar dan langsung menikah hubungannya bisa langgeng sampai maut memisahkan, namun kan juga gak sedikit orang yang justru kaget dengan sifat asli pasangannya yang akhirnya bikin pernikahannya gak bahagia, bahkan ada yang berakhir dengan perceraian.

Sungguh, aku juga gak mau hal tersebut terjadi kepadaku, aku ingin mengambil jalan yang lebih aman aja…

Yaitu pacaran dulu antara 1-2 tahun terlebih dahulu untuk mengetahui sifat pasangan aslinya seperti apa.

Ya walaupun itu juga bukan jaminan bahwa kehidupan setelah pernikahan bakalan jauh lebih baik, tapi seenggaknya bisa mengetahui sifat pasangan lebih dahulu merupakan pilihan yang gak buruk-buruk amat buatku.

Karena jika nantinya tahu ada kekurangan pasangan yang gak bisa ditoleransi, putus sekalipun juga bakalan jauh lebih mudah dibandingkan dengan kalau misalnya sudah menikah.

Iya, Tata sendiri memang jauh lebih menyarankan langsung menikah, namun aku sendiri juga masih belum bisa bahagiain diri sendiri.

Takutnya kalau aku belum bahagia, nanti setelah nikah aku bakalan jauh lebih gak bahagia lagi.

Gak boleh juga menggantungkan kebahagiaan diri sendiri ke orang lain, karena kebahagiaan diri sendiri itu ya tanggung jawab diri sendiri juga, bukan tanggung jawab orang lain.

Sering sekali ada orang yang menyalahartikan bahwa yang harus membahagiakan dia adalah pasangannya.

Tata juga cerita ke aku kalau dia langsung menembak orang yang menjadi istrinya sekarang dengan ungkapan kalau dia pengen serius.

Ya emang sih mereka gak langsung menikah, ada jarak sekitar 2-3 tahunan baru akhirnya mereka menikah.

Karena dulu Tata nembaknya itu posisinya masih skripsi, belum lulus S1 apalagi punya kerjaan.

Dia baru menikah setelah mendapatkan pekerjaan, yang di mana tentu saja dia harus lulus dulu dari kuliahnya.

Itu pun juga sebenarnya juga menunggu pasangannya lulus kuliah juga sih sebenarnya.

Tentu aja dengan mengucapkan bahwa dia pengen serius di awal hubungan mungkin bisa dibilang risiko tinggi.

Soalnya dengan langsung menyatakan bahwa dia ingin serius, tentu nantinya kalau di bulan-bulan awal pacaran ada sifat dari pasangan yang gak disuka bakalan mentolerir itu dengan alasan “kan bentar lagi nikah”.

Karena jelas dengan menikah gak akan merubah seseorang yang mungkin dulunya cuek menjadi lebih perhatian, atau mungkin orang yang gak bertanggung jawab bisa menjadi lebih bertanggung jawab…

Gak sama sekali, pernikahan gak akan merubah seseorang, karena yang bisa merubah orang itu hanya orang itu sendiri, orang lain gak bisa mengubah dia.

Jarang ada orang yang berubah setelah menikah, dan kebetulan juga di lingkungan orang-orang yang aku kenal juga rata-rata gak begitu berubah setelah menikah, malah ada yang semakin menjadi-jadi setelah menikah.

“Maksudnya seperti gimana?”

Seperti misalnya menjadi bertanggung jawab, ada saudara yang sudah menikah malah menjadi jauh gak bertanggung jawab dibandingkan waktu sebelum menikah.

Tentu aku gak pengen hal yang gak enak itu terjadi ke aku juga.

Tata, aku tahu kamu juga orang dengan penghasilan yang gak sedikit juga.

Kamu berpenghasilan hampir 2 kali lipat dibandigkan UMR kota Surabaya, waktu itu, itu dulu waktu tahun 2018-an, sekarang, waktu artikel ini diterbitkan sudah tentu penghasilanmu jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya.

Kamu berikan sebagian penghasilan itu ke orangtuamu, sebagiannya lagi kamu berikan ke istrimu.

Kamu baru mendapatkan uang bulananmu setelah kamu diberi oleh istrimu.

Kamu bilang kalau kadang kamu diberi jatah kurang dari yang kamu butuhkan setiap bulan untuk operasional dan jajanmu.

Kamu bilang “kalau nanti kamu sudah berkeluarga kamu bakal ngerti sendiri”

Kalimat seperti itu kok rasanya seperti mengajak aku jatuh ke lubang yang sama seperti lubang di mana kamu jatuh ya?

Sudah tentu dong aku gak mau terjebak di lubang yang sama seperti kamu, tapi ya gak tau lagi lah nantinya kayak gimana kalau aku.

Tapi yang jelas sudah tentu kalau gak sesuai dengan uang operasional ya tentu gak bisa dong, soalnya bensin mau beli pakai apa kalau uang operasionalnya aja kurang…

Kalau uang jajan dikurangi masih oke lah, masih bisa diganti dengan bawa bekal dari rumah, malah justru harusnya bawa bekal dari rumah supaya bisa lebih hemat uang jajan sih.

Karena dulu waktu aku masih kerja di kantor juga sering dibawakan bekal sama ibuku, biar aku gak bingung cari makan waktu istirahat kantor.

Yang jelas sepertinya aku butuh untuk ikut Kelas Cinta dan mungkin Hitman System untuk bisa mengupgrade diriku sendiri supaya bisa menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Karena memang aku sendiri minim pengalaman dalam berhubungan dengan lawan jenis, mentok hanya sebatas sahabat aja, berharap lebih juga gak bisa.

Karena cewek yang sudah berhasil menjadi sahabatku sendiri udah terlanjur nyaman buat jadi sahabatku dibandingkan menjadi pasanganku.

Aku sendiri sebenarnya juga ngerasa takut untuk ditolak, dan ya memang itu benar-benar terjadi…

2 kali nembak, di orang yang sama, semuanya ditolak.

Jawabannya sama, karena dia nyaman untuk menjadi sahabatku dibandingkan dengan menjadi kekasihku.

Ya lagipula juga aku sendiri juga masih belum sebaik itu untuk bisa menjalin hubungan.

Istilahnya aku sendiri masih toxic, suka maksa, emosi kadang juga masih labil.

Mungkin hal ini dikarenakan aku sendiri gak pernah berada di dalam sebuah hubungan, jadi gak ngerti bagaimana cara menjadi pasangan yang baik itu gimana.

Dan sekali lagi, ini lah fungsi dari Kelas Cinta, untuk mengajari aku bagaimana menjadi orang yang mendekati sempurna di dalam sebuah hubungan.

Yang jelas aku sendiri gak mau menjadi orang yang nekat, mending bermain aman terlebih dahulu, karena kemungkinan terburuknya adalah akan menjadi penyesalan seumur hidupku.

Aku ya kepengen gitu bisa move on dan mencari cinta yang baru, aku gak mau terus-terusan terjebak di kondisi seperti ini terlalu lama.

Sekali lagi, Kelas Cinta mungkin bisa bantu aku untuk keluar dari masalah yang sedang aku hadapi.

Mungkin segitu dulu aja curhatanku untuk kali ini.

Gak ada poin yang ingin aku jelaskan juga sebenarnya dalam curhatan ini.

Hanya ingin menuliskan apa yang menjadi kegelisahanku sendiri.

Entah lah tulisan ini nantinya akan berujung dengan banyaknya hujatan dan cacian apa nggak, aku gak tahu, mungkin aku akan dihujat gara-gara tulisan ini.

Tapi ya sudah lah, aku hanya menuliskan opini pribadiku sendiri dengan apa yang aku pelajari di Kelas Cinta.

Gak nyangka aja kalau sebuah curhatan juga bisa berubah menjadi sebuah artikel yang panjang seperti ini…

Padahal curhatan ini saja diambil dari percakapanku dengan Tata yang di mana berhasil membuat aku merasa insecure, sehingga aku pun menuliskan artikel ini.

Memang pertemuan tersebut sudah berlangsung lama sekali, namun aku sendiri masih kepikiran dengan perkataan tersebut.

Ah perasaan insecure ini sunggu gak menyenangkan.

Yang jelas aku sendiri butuh untuk mengikuti Kelas Cinta, walaupun aku juga memerlukan untuk terjun secara langsung ke dalam sebuah hubungan…

Namun sepertinya itu harus menunggu waktu dulu, karena kondisi masih ada pandemi corona, sehingga gak bisa dengan mudah berkeliaran.

Tinggalkan komentar