Jenis-Jenis Investasi

jenis-investasi

idkiswara.com – Pada saat ini sudah banyak bertebaran tentang bagaimana cara untuk berinvestasi baik yang terdapat di YouTube atau di media sosial seperti Instagram.

Banyak di antara akun-akun tersebut yang memberitahukan uang yang sudah didapatkan baiknya diinvestasikan ke mana agar uang yang diinvestasikan bisa membawa lebih banyak uang kepadamu.

Nah, pada kesempatan kali ini aku ingin membagikan beberapa jenis investasi sih sebenarnya.

Walaupun beberapa di antaranya mungkin agak “nyeleneh” jika dibandingkan dengan artikel-artikel tentang investasi lainnya.

Ya udah lah, aku udah bingung gimana cara bikin kalimat awalan ini, jadi langsung aja ya…

Jenis-Jenis Investasi

1. Emas

Emas sendiri bisa digunakan sebagai instrumen investasi karena emas sendiri nggak terkena dampak inflasi jika dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya.

Emas yang cocok untuk dijadikan investasi merupakan emas batangan murni…

… bukan emas untuk perhiasan.

Karena untuk perhiasan kadar emasnya bisa berkurang karena penggunaan.

Untuk harga emas ini cenderung untuk naik kalau dilihat dari tahun ke tahunnya.

Namun sayangnya harga waktu kita beli emas dan harga kita jual ya ada perbedaan harga.

Biasanya sih harga beli jauh lebih tinggi dibandingkan harga jualnya.

Sehingga menurutku kurang mantap aja gitu kalau misalnya kita beli emas kemudian beberapa hari kemudian dijual lagi.

Jumlah keuntungan yang didapat nggak begitu banyak soalnya.

Kalau kata kedua orang tuaku sih mendingan emasnya disimpan dulu paling nggak satu tahun gitu baru dijual lagi.

Karena keuntungannya jadi lebih banyak.

Semakin lama disimpan tentu harganya semakin naik, seiring dengan laju inflasi.

Namun cara untuk mendapatkan uang dari emas ini hanya ada satu cara aja sih…

Yaitu dengan cara menjualnya.

2. Reksadana

Reksa dana ini sebenarnya cara kerjanya kurang lebih seperti kita kasih uang ke orang yang jago dalam berinvestasi…

… sehingga nanti keuntungan yang berhasil didapatkan akan dibagi kepada “pemberi modal” sesuai dengan porsinya.

Yang menyenangkan dari reksa dana ini adalah hasil keuntungan yang didapatkan akan langsung “diputar” lagi sehingga akan bisa membuat efek bola salju yang di mana jumlah keuntungan yang didapatkan semakin besar.

Uang kita akan terus diputar sampai pada akhirnya kita sebagai pemilik modal memilih untuk menarik uang kita yang terdapat di sana.

Untuk jenis reksa dana sendiri sebenarnya ada 4, yaitu sebagai berikut:

  • Reksadana pasar uang
  • Reksadana pendapatan tetap
  • Reksadana campuran
  • Reksadana saham

Masing-masing reksadana memiliki karakter sendiri-sendiri dalam mendapatkan keuntungan.

Tentu saja ini juga tergantung dari bagaimana profil risiko dari masing-masing orang.

Jika ternyata nanti ada banyak orang yang baca artikel ini, mungkin aku bakal coba buat jelasin perbedaan dari masing-masing jenis reksa dana ini.

Aku sendiri sih hanya pegang reksa dana pasar uang, karena pasti dapat keuntungan tiap harinya, walaupun keuntungannya juga kecil.

Namun sebenarnya yang paling penting adalah setiap bulannya kita mau untuk menyisihkan uang sebagai tambahan “amunisi” di akun reksa dana yang dimiliki.

Karena dengan kita konsisten nabung di reksa dana, maka uang yang bisa kita dapatkan menjadi semakin banyak karena adanya efek bola salju.

Untuk beberapa waktu ini sebenarnya aku sendiri nggak terlalu banyak untuk mengalokasikan uang yang aku punya ke dalam reksa dana…

Karena memang dananya yang mepet sehingga aku sendiri harus memilih unutk menjaga uang yang ada di rekeningku tetap surplus walaupun nggak banyak.

Apalagi aku sendiri juga sedang menjadi jobseeker karena wabah corona ini.

Yah, beruntungnya aku punya investasi berupa robot trading…

Kembali lagi ke reksadana…

Sebenarnya ada beberapa aplikasi yang bisa membuat kita bisa berinvestasi ke reksa dana.

… bahkan ada website marketplace yang di mana menyediakan fitur untuk kita berinvestasi di reksa dana walaupun memang pilihannya gak begitu banyak jika dibandingkan dengan platform aplikasi.

Cuma untuk reksadana ini satu-satunya cara untuk mendapatkan uang adalah dengan menjual reksadana yang kita punya.

Jadi hanya ada satu cara aja dalam mendapatkan keuntungan.

3. Saham

Nah, untuk yang satu ini merupakan versi sulit daripada reksa dana.

Baca Juga:   Gambar Membuat Website Menjadi Berat

Cuma enaknya kita bisa pilih sendiri kita mau investasi ke perusahaan mana…

Sementara kalau reksa dana kan kita nggak bisa tau uang kita diinvestasikan ke mana, yang penting dapat untung aja.

Untuk pembelian saham di Indonesia, kita harus beli dalam jumlah 1 lot alias 100 lembar.

Harga saham sendiri kalau nggak salah sih dimulai dari 50 rupiah per lembarnya, kalau misal mau beli ya harus dikali 100 dulu untuk bisa mendapatkan harga yang sebenarnya.

Ada banyak faktor sih yang mempengaruhi harga saham, mungkin untuk lebih lengkapnya bisa lihat akun Instagram @ngertisaham aja.

Karena di akun itu suka sharing tentang bagaimana cara untuk melakukan analisa pada emiten saham.

Lebih mudahnya seperti panduan “Ini saham layak dibeli nggak sih?”.

Sebenarnya untuk saham sendiri bisa menjadi “high risk, high return” atau “low risk, low return.”

Semuanya bergantung di perusahaan mana kita berinvestasi.

Kalau berinvestasi di perusahaan yang tergolong “Blue Chip” atau “LQ45” tentu aja risikonya lebih rendah…

Namun mungkin ada sebuah permasalahan yang bakal “menghantui” para investor pemula, yaitu:

“Harga saham tersebut pasti mahal”

Sementara untuk mereka yang sudah jago dalam analisa teknikal maupun fundamental akkan memilih untuk membeli “saham gorengan” yang di mana harganya bisa fluktuatif sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang lebih cepat serta harga yang jauh lebih murah.

Karena bisa memberikan hasil yang banyak dalam waktu singkat, otomatis memiliki risiko yang tinggi…

… yaitu adalah ketika ternyata market nggak bergerak ke harga yang diinginkan dan akhirnya rugi, maka harus melakukan cutloss.

Biasanya sih untuk orang-orang yang bermain di saham gorengan ini beli dalam jumlah lot yang besar sehingga bisa mendapatkan margin keuntungan yang besar.

Untuk saham ini sebenarnya ada 2 cara untuk bisa mendapatkan uang, yaitu sebagai berikut:

  • Capital gain (keuntungan dari harga saham yang naik)
  • Dividen (bagi hasil keuntungan perusahaan kepada para pemegang saham)

Untuk jumlah dividen yang dibagikan pun juga tergantung dengan perusahaannya…

Ada perusahaan yang memang nggak bagi-bagi dividen karena uangnya harus digunakan untuk modal lagi.

Kalau aku sendiri sih sebenarnya lebih suka untuk mengumpulkan dividen, walaupun memang hasil dari dividennya nggak seberapa dibandingkan dengan uang yang harus aku keluarkan untuk beli setiap lot sahamnya.

Namun ya begitulah yang namanya passive income, kita memerlukan modal yang besar untuk bisa mendapatkan uang yang nggak seberapa tanpa harus aktif melakukan usaha…

4. Properti

Nggak ketinggalan juga kalau properti merupakan investasi yang bagus…

Untuk properti ini bisa pilih, antara mau disewakan atau dijual.

Jika disewakan maka properti tersebut akan terus menghasilkan uang selama properti itu disewa walaupun uang yang dihasilkan nggak begitu banyak.

Sementara jika dijual, maka kita bisa mendapatkan uang yang banyak, namun hanya sekali aja…

Untuk investasi properti ini sebenarnya bergantung dengan bagaimana pembangunan daerah untuk bisa menentukan harga, baik itu untuk sewa atau dijual…

Jika daerah tersebut merupakan daerah yang merupakan daerah yang di mana merupakan pusat perekonomian, tentu aja harganya akan melambung tinggi.

Aku teringat dulu, pada tahun 2010, harga rumah 7×15 meter persegi di sekitar kecamatan tempat aku tinggal nggak lebih dari 400 juta rupiah…

… dan kebetulan walikota pada saat itu sedang membangun jalan yang bisa menghubungkan sisi selatan kota dengan sisi utara kota.

… kebetulan juga di sisi selatan kota ini juga ada jalan tol yang di mana terhubung ke bandara.

Sekitar tahun 2015, sisi selatan sudah terhubung dengan sisi utara walaupun belum 100%…

Karena jalan di sisi selatan yang paling selatan belum bisa terealisasi karena masalah pembebasan lahan.

Namun seperti itu saja sudah bisa meningkatkan harga tanah menjadi berkali-kali lipat…

Rumah dengan ukuran 7×15 meter persegi ini harganya sudah menjadi 1 milyar lebiih…

… walaupun pada kenyataannya posisi rumahnya masih harus jalan sekitar 5 menit untuk bisa sampai ke jalan penghubung antara sisi selatan dengan sisi utara kota.

Dengan adanya jalan tersebut juga tentunya ada banyak ruko-ruko yang dibangun, sehingga perekonomian di sekitar daerahku bisa dibilang menjadi lebih baik.

Baca Juga:   Akhirnya Diterima Google Adsense

Cuma aku sendiri lihat usaha yang dibangun, secara mayoriitas usahanya itu merupakan cafe atau restoran kekinian yang di mana dekorasinya estetik banget.

… namun sebagai catatan, aku sendiri lihat bangunannya aja, nggak sampai masuk dan beli makanan yang mereka jual…

Hal yang paling penting adalah orang yang memiliki tanah dan bangunan di daerah itu jadi bisa mendapatkan penghasilan pasif dari sewa lahan.

Namun juga ada beberapa lahan yang dijual sih sebenarnya.

Ya memang sih, kalau uang yang bisa didapatkan antara sewa atau jual, tentu saja uang yang bisa didapatkan jauh lebih banyak jika dijual…

Namun jika dijual, kita hanya bisa mendapatkan uang itu sekali aja…

Sementara kalau sewa, uang yang didapatkan memang nggak terlalu banyak, namun penghasilannya bisa terus menerus.

Apalagi kalau letak dari properti tersebut berada di dekat jalan utama…

5. Hewan ternak

Untuk hewan ternak ini sebenarnya aku terinspirasi pada saat aku berkunjung ke rumah nenekku.

Beliau suka bercerita tentang bagaimana cara orang-orang di desa tersebut bisa mendapatkan uang yang jauh lebih banyak.

Salah satunya adalah dengan membeli hewan ternak seperti sapi atau kambing.

Mereka membeli hewan tersebut pada saat hewan tersebut masih kecil, kemudian mereka rawat hewan tersebut sampai dewasa atau sampai seenggaknya hewan tersebut layak untuk disembelih.

Biasanya orang-orang di desa tersebut nggak membeli sapi atau kambing dalam jumlah banyak…

Aku lihat di beberapa rumah, mereka hanya memiliki paling banyak 3 hewan ternak, entah itu berupa sapi atau berupa kambing.

Ketika sapi atau kambing yang mereka pelihara sudah dewasa, biasanya akan ada semacam tengkulak yang menawar hewan tersebut.

Aku melihat investasi seperti itu memang terdengar menyenangkan…

Karena di desa, sapi yang masih berupa anakan dengan harga nggak sampai 5 jutaan kalau nggak salah…

Setelah sapinya dewasa, paling nggak bakal ditawar 15 juta rupiah, namun tentu saja ini tergantung dari bobot sapi tersebut sih…

Bisa dibuat lebih menarik…

Ketika aku bersama orang tuaku “terdampar” di suatu tempat karena mobil kami kehabisan kampas kopling…

Mobil kami masuk ke dalam bengkel yang terdapat di daerah itu, karena pengerjaan penggantian kampas kopling tersebut perlu waktu yang lama, ada salah seorang warga yang mau menampung kami selama mobil kami diperbaiki.

Selama sekitar 3 hari di sana, aku melihat orang yang menampung aku dan orang tuaku memiliki kendang sapi yang di mana berukuran besar di belakang rumahnya.

Setelah melihat ke kendang itu, ternyata terdapat sapi perah, jumlahnya 10 ekor yang dewasa, sementara yang masih anakan 5 pada saat itu.

“Apa yang menarik?”

Yang menarik adalah orang tersebut bisa mendapatkan keuntungan bersih sampai dengan 20 juta rupiah setiap bulannya…

Beliau memiliki 4 orang pegawai yang di mana bertugas untuk mencari rumput, memerah susu, serta membersihkan kandang setiap harinya.

Dalam sehari sapi tersebut diperah 2 kali, yaitu pada jam 3 pagi dan jam 3 sore.

Pada saat itu aku pun bertanya kepada beliau ke mana susu sapi tersebut dijual, ternyata sudah ada semacam Koperasi Unit Desa yang di mana akan membeli semua susu yang dihasilkan oleh warga.

Untuk setiap liter susu yang dihasilkan akan dibeli oleh Koperasi seharga 6000-7000 rupiah…

Beliau juga bilang bahwa setiap sapinya mampu menghasilkan paling nggak 10 liter sehari…

Beliau pun juga bilang kalau sapinya itu jarang menghasilkan 10 liter dalam sehari, rata-rata antara 12-15 liter sehari.

Ketika sapi perah tersebut sudah nggak begitu produktif menghasilkan susu karena faktor usia, maka sapi tersebut akan dijual sebagai sapi potong.

Itu pun harganya masih di atas 10 juta…

Sementara sapi tersebut akan terus menghasilkan susu dari umur 2,5 tahun sampai 9 tahun.

Sapinya sendiri bisa diperah susunya selama 10 bulan.

Setelah 10 bulan, sapi tersebut nggak akan bisa menghasilkan susu dan akan dilakukan “kawin suntik” agar sapi tersebut hamil dan bisa beranak sehingga susunya bisa diperah lagi.

Jika anakan sapi yang lahir merupakan seekor jantan, ada dua jalan yang bisa diambil.

Baca Juga:   Permintaan Maaf Saya Kepada Semua Pembaca Blog Ini

Yaitu menjadikannya semacam indukan yang di mana bisa diambil spermanya untuk disuntikkan pada sapi betina lainnya atau sapi tersebut dijual sebagai sapi potong.

Sementara jika sapi yang lahir merupakan betina, tentu saja sapi tersebut akan menjadi sapi perah.

Namun memang ada hal yang kurang nyaman sih…

Yaitu nggak ada kata libur untuk menjalankan bisnis ini…

Sehingga harus siap tenaga ekstra.

Namun untuk hasil yang bisa didapat memang jauh lebih banyak dibandingkan dengan memelihara sapi atau kambing yang di mana tujuannya adalah untuk daging potong.

Walaupun sebenarnya bisa saja untuk mendapatkan hasil yang sama antara berjualan sapi potong dengan sapi perah per bulan atau bahkan per harinya…

Namun tentu saja memerlukan biaya yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan sapi perah.

Hal ini disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan bagi si sapi untuk tumbuh menjadi dewasa sebelum pada akhirnya akan dijual kepada Rumah Potong Hewan atau tengkulak.

Sehingga jumlah sapi yang harus diternakkan akan jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan sapi perah untuk bisa mendapatkan keuntungan yang sama.

6. Pohon

Kembali lagi ke desa tempat nenekku tinggal…

Banyak orang di sana menanam pohon sengon di sekitar halaman serta sawah.

Ternyata pohon tersebut diianggap semacam “tabungan” bagi warga desa…

Biasanya setelah pohon tersebut berusia sekitar 5 tahun mereka akan menjualnya kepada para tengkulak yang suka datang beberapa hari sekali.

Pohon sengon sendiri dipilih karena nggak memerlukan perawatan yang ribet dan pohon tersebut memiliki waktu panen yang cukup cepat.

Untuk masalah harga bibitnya per pohon sendiri aku nggak ingat pastinya berapa, cuma yang aku ingat adalah harganya nggak jauh lebih mahal jika dibandingkan segelas es blender yang di mana biasa dijual di sekolah atau pasar malam.

Walaupun memang minim perawatan, pada dasarnya investasi pohon ini bisa dibilang hampiir sama dengan investasi sapi potong yang di mana hanya menghasilkan uang sekali aja…

Namun untuk masalah perawatan, investasi pohon ini bisa dibilang jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan sapi perah…

Kesimpulan

Ah, nggak nyangka aja sih kalau artikel iseng seperti ini aja bisa jadi artikel panjang…

Memang investasi sendiri macamnya ada banyak…

Beberapa di antaranya bisa menjadi passive income yang di mana kita nggak perlu susah-susah kerja untuk mendapatkan uang secara terus menerus…

Namun memang modal yang diperlukan untuk bisa mendapatkan passive income sendiri kita memerlukan modal yang besar.

Misalnya seperti investasi properti, sapi perah, dan saham (kita mengharapkan dividen)

Ada juga investasi yang di mana kita hanya bisa sekali aja untuk bisa mendapatkan uang.

Misalnya seperti investasi emas, pohon, atau sapi potong.

Memang modal yang dibutuhkan untuk bisa investasi itu nggak pernah ada yang benar-benar murah.

Seperti misalnya kamu ingin berinvestasi sapi potong, kamu mungkin bisa beli anakan sapi itu dengan harga murah…

Namun dalam proses tumbuhnya sapi tersebut kamu butuh biaya untuk memberi makan dan membersihkan kandang…

… walaupun sebenarnya untuk makanan sapi sendiri kalau di desa ya tinggal cari rumput liar aja…

Tapi kan untuk bisa pergi ke tempat rumput itu tumbuh dan bawa semua rumput itu ke kandang perlu kendaraan, yang di mana biasanya menggunakan motor untuk membawa rumput pakan sapi…

Sehingga perlu yang namanya uang bensin.

Itu pun kalau kamu mau melakukannya sendiri

Karena gak sedikit orang yang memberikan tanggung jawab untuk merawat sapi kepada orang lain.

… yang di mana biasanya setelah sapinya laku baru bagi hasil antara pemilik modal dengan orang yang merawat sapi tersebut.

Kamu sendiri lebih suka investasi yang seperti apa?

Yang sekali invest bisa mendapatkan passive income atau beli di harga murah kemudian jual di harga tinggi?

Tulis di kolom komentar ya.

Oh iya, kalau kamu ada uneg-uneg yang mau disampaikan, kamu bisa tuliskan uneg-unegmu itu di kolom komentar juga ya.

Terima kasih sudah mau membaca artikelku.

Tinggalkan komentar