Kerumitan Pembuatan Film Putri Duyung

Mungkin pembahasan kali ini merupakan pembahasan yang mungkin saja sangat lah gak penting.

Karena aku menulis artikel yang satu ini hanya untuk kesenagan diriku semata.

Mungkin juga artikel ini juga gak akan sepanjang biasanya karena ini merupakan analisaku semata.

Kenapa pembuatan film yang berbau Putri Duyung itu sulit?

Ya, aku akui aku sangat menyukai film atau series yang berbau Putri Duyung.

Karena itu merupakan fantasiku di masa kecil yang terus terbawa hingga saat ini.

Aku perhatikan jarang sekali film atau series yang menceritakan tentang Putri Duyung itu jarang sekali.

Walaupun yang sekedar inti ceritanya itu hanya tentang cinta-cintaan aja, itu bisa dibilang sangat jarang sekali, apalagi sampai yang jalan ceritanya rumit.

Baiklah aku akan langsung bahas kenapa sih membuat film atau series tentang Putri Duyung itu sulit…

1. Kemampuan berenang serta menyelam yang baik

Ini merupakan kemampuan yang harus dimiliki baik pemeran putri duyungnya dan juga orang yang menjadi kameramen dari film atau series tersebut.

Karena jika gak punya kemampuan berenang dan menyelam tentu akan menjadi kesulitan sendiri jika akan mengadakan scene underwater.

Kan yang biasa dijual di film yang berbau Putri Duyung ini kan biasanya waktu berenang di dalam airnya.

Mungkin pengambilan gambarnya bisa dilakukan di permukaan, sementara pemerannya terus saja berenang…

Namun tentu aja gak bakal begitu seru dibandingkan dengan kameramen yang juga ikutan nyebur ke dalam air.

Karena sensasinya berbeda antara kameramen yang juga ikutan nyebur ke dalam air dengan kameramen yang cuma merekam di permukaan aja.

Tentu juga kemampuan berenang yang harus dimiliki pemeran duyungnya adalah kemampuan berenang dengan menggunakan gaya berenang yang bernama dolphin kick.

Hal ini dikarenakan tentu gaya berenang yang bisa digunakan oleh pemeran duyungnya juga gak bisa gaya berenang seperti gaya katak atau mungkin gaya bebas.

Dengan gaya dolphin kick pemeran putri duyung bisa berenang layaknya duyung yang sesungguhnya, di mana gak punya kaki yang bisa digunakan untuk berenang, melainkan dengan menggunakan sirip untuk berenang.

Untuk menguasai teknik berenang ini memang terbilang lumayan susah, karena aku sendiri aja yang baru belajar berenang di Januari 2020, di usia 24 tahun, waktu artikel ini ditulis aku sudah menginjak 25 tahun dan dibuat pada September 2020, berenang gaya bebas aja sulitnya minta ampun.

Aku sendiri masih jauh lebih menguasai gaya katak, namun ketahanan staminanya sendiri masih sangatlah kurang, sehingga aku sendiri gak bisa berenang jauh.

Ini pun juga diperparah dengan adanya wabah corona yang di mana membuat aku gak bisa kursus renang selama beberapa bulan dan akhirnya membuat kemampuan berenangku semakin menurun.

Padahal aku sendiri juga ingin bisa menguasai teknik dolphin kick, sehingga aku bisa berenang layaknya duyung.

2. Kemampuan pose dalam air

Ini mungkin hal yang gak perlu aku jelaskan lagi, namun aku ingin sekali untuk mention hal yang satu ini.

Kemampuan ini harus dimiliki oleh orang-orang yang harus syuting dalam air.

Gak cuma yang berperan menjadi Putri Duyungnya aja yang harus bisa pose dalam air…

Yang berperan menjadi manusia juga harus bisa pose dalam air kalau misalnay ada adegan yang harus diambil dengan scene underwater.

Untuk bisa berpose dalam air sendiri juga bukan merupakan hal yang mudah, karena harus menyelam sambil menunjukkan mimik wajah yang sesuai dengan adegan yang akan diperankan.

Cuma seenggaknya yang berperan menjadi manusia itu gak terlalu ribet tentang bagaiaman cara dia harus berenang.

Dia mau berenang gaya apapun yang dia bisa juga gak masalah, karena kakinya gak terikat seperti orang yang memerankan diri sebagai Putri Duyung.

3. Perlengkapan rekaman dalam air

Ini mungkin juga menjadi halangan dalam membuat film atau series dengan bertemakan Putri Duyung.

Karena tentu saja dalam pembuatannya memerlukan perlengkapan rekaman dalam air.

Walaupun itu cuma berupa cover untuk melindungi kamera ketika digunakan dalam air.

Tentu saja ini harganya lumayan mahal.

Mungkin bisa diakali dengan menggunakan action camera yang di mana biasanya sudah termasuk dengan cover underwaternya, namun tentu aja hasil yang diberikan kamera action cam dibandingkan dengan kamera DSLR itu beda sekali.

Selain kamera yang bisa digunakan di dalam air, mungkin juga perlu untuk pecahayaan dalam air.

Untuk pencahayaan yang bisa digunakan di dalam air juga tentunya sedikit lebih mahal dibandingkan dengan pencahayaan biasa.

Karena cahaya yang bisa dipancarkan di dalam air kekuatan jangkauan cahayanya gak seberapa jauh dibandingkan dengan pencahayaan biasa.

Untuk perekam suara dalam air sendiri aku sendiri juga jarang mengetahui ada film atau series tentang Putri Duyung yang mengeluarkan suara dalam airnya.

Semuanya lebih cenderung untuk memasukkan musik aja ke dalam film atau series tersebut.

Mungkin hal ini dikarenakan memang gak ada yang menarik apabila menggunakan microphone dalam air untuk perekaman suara.

Karena tentu aja gak ada dialog yang bisa dilakukan di dalam air kan…

Orang kan gak bisa ngomong dalam air.

4. Harus dekat dengan kolam atau laut

Ya namanya juga, film atau series tentang Putri Duyung, pasti ya harus dekat dengan kolam atau laut sehingga bisa pengambilan gambar dalam air.

Namun mungkin ini bukan lah masalah yang begitu berarti.

Kalau harus dekat kolam ya tinggal sewa saja rumah yang ada kolam renangnya, sehingga rumahnya bisa menjadi tempat syuting sekalian.

Namun untuk yang di laut ini sedikit agak tricky.

Karena bukan gak mungkin membutuhkan perahu untuk mengakomodasi keperluan syutingnya.

Untuk film sendiri juga menurutku malah scene underwater-nya jarang sekali, malah kebanyakan perjalanannya si duyung selama menjadi manusia.

Untuk series yang cenderung lebih banyak scene underwater-nya, sehingga sangat perlu sekali tempat yang dekat dengan kolam renang atau laut.

Mungkin sungai juga bisa digunakan, namun sungainya sendiri harus sungai yang masih bersih.

Mungkin syuting di sungai ini sangat gak mungkin jika dilakukan di Indonesia, karena kebanyakan sungainya sudah berwana cokelat sehingga sangat gak pantas untuk digunakan sebagai scene underwater.

Yang membuatnya gak pantas adalah karena airnya sendiri sudah tercemar, tentu akan sangat menyakitkan mata apabila harus berenang tanpa menggunakan kacamata renang.

Namun berenang di kolam renang tanpa menggunakan kacamata renang aja ya rasanya lumayan gak bersahabat di mata sih jika harus buka mata.

Selain itu juga dengan sungai yang sudah tercemar ini membuat jarak pandang dalam air yang semakin terbatas.

Belum lagi kalau misal ada sampah yang mungkin aja tiba-tiba lewat, kan mengganggu pemandangan banget.

Mungkin ini merupakan halangan yang aku jelaskan tadi itu jika pengambilan gambarnya di kota.

Jika pengambilannya dilakukan di pegunungan mungkin akan berbeda, karena biasanya jika di pegunungan itu airnya masih jernih, minim polusi, sehingga cocok untuk digunakan perekaman dalam air.

Tentu juga dengan air yang jauh lebih bersih, tentu mata dari pemeran duyungnya sendiri gak akan begitu sakit, sehingga lebih nyaman.

5. Tingkat bahaya

Tingkat bahaya ini terutama ketika harus berenang aja sih, namun ini utamanya untuk mereka yang menjadi pemeran duyungnya.

Karena berenang menggunakan ekor duyung ini otomatis mengurangi kebebasan bergerak dari pemeran duyung itu sendiri.

Jika berenangnya masih belum begitu jago, tentu ini akan menjadi bahaya karena pergerakan kaki yang sangat terbatas bisa mengakibatkan orang tersebut tenggelam.

Mungkin ini bisa disiasati dengan adanya beberapa orang yang bertugas untuk menjaga pemeran duyung ini sendiri, sehingga jika nanti ada apa-apa bisa langsung ditolong.

Kesimpulan

Pembuatan film atau series yang berhubungan dengan Putri Duyung ini memang gak semudah film atau series biasa.

Namun tetap aja setiap film itu ada tingkat kesulitannya masing-masing.

Untuk film yang berbau dengan Putri Duyung ini pemerannya selain harus jago akting, juga harus jago berenang.

Peralatan yang dibutuhkan pun juga peralatan yang harus tahan air juga.

Selain itu pembuatan film ini juga bisa mengancam nyawa orang-orang yang harus berperan menjadi Putri Duyung itu sendiri, sehingga memerlukan penjagaan yang lebih baik jika dibandingkan dengan film romansa biasa.

Mungkin segitu dulu aja tentang sharingku yang gak begitu jelas ini.

Perlu diingat, semua yang aku tulis di artikel ini, cuma analisa sepintas yang aku dapatkan ketika aku sedang melamun.

Aku sendiri juga gak begitu menyangka bahwa hasil lamunanku pun juga bisa menjadi artikel yang segini panjangnya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kamu.

Jika kamu mungkin punya uneg-uneg yang perlu untuk disampaikan, kamu bisa sampaikan semua itu di kolom komentar yang terletak di bawah artikel ini.

Terima kasih sudah mau membaca artikel ini.

Tinggalkan komentar