Selamat Jalan Gembul, Kucing Kesayanganku

Cerita ini belum ada headingnya, aku cuma mau catet semuanya dulu.

Semoga nanti aku inget sama cerita ini terus kasih heading supaya bacanya juga lebih enak.

Hari Rabu, tanggal 8 Juli 2020 kemarin, kucingku, Gembul, masuk ke dalam klinik hewan La Femur.

Aku membawanya ke klinik karena dia gak mau makan serta badannya terasa terasa lebih hangat dibanding biasanya.

Setelah di diagnosa dokter Sandy dan dokter Aulia, ternyata kantong pipisnya penuh, dia gak bisa pipis, akhirnya Gembul harus dipasang kateter untuk membantu mengosongkan kantong pipisnya.

Selain itu juga dibantu untuk mengosongkan kantong pipisnya juga.

Pipisnya ternyata cukup pekat warnanya, mungkin karena dia juga sudah mulai gak makan sama minum selama 2 hari.

Sepanjang 2 hari sebelumnya itu dia hanya tidur aja gitu, paling bangun cuma buat pindah tempat tidur aja, dipanggil pun juga gak mengeong seperti biasanya.

Setelah dikosongkan kantong pipisnya, dia dibawa pulang, kakakku membelikan sebuah kandang yang memang ukurannya gak terlalu besar, namun jauh lebih baik jika dibandingkan dengan dia ditaruh di kandang burung seperti waktu Gembul dibawa ke klinik.

Gembul merasa gak nyaman sama sekali karena harus dikandangi, sementara dia biasanya bebas untuk jalan-jalan kemana pun yang dia inginkan.

Kami juga disuruh meminumkan beberapa obat yang di mana berfungsi untuk melancarkan pipisnya Gembul.

Sebuah tantangan tersendiri buat keluargaku untuk meminumkan obat itu karena Gembul sendiri cukup susah untuk membuka mulutnya, sehingga harus agak dipaksa untuk minum obat.

2 hari gembul nangis sama ngeong mulu karena dia pengen dilepaskan dari kandangnya.

Aku sedih sebenernya harus lihat Gembul harus dikurung, cuma kalo misal dibiarkan bebas, nanti takutnya pipisnya bisa ke mana-mana yang nantinya bisa bikin rumah menjadi lebih kotor, selain itu juga dengan dikurung gitu jadi lebih gampang buat ngontrol dia pipis apa nggak.

Tapi setelah hari ketiga dikurung, sepertinya Gembul juga sudah mulai terbiasa dengan keadaan yang harus dikurung gitu.

Hari Minggu, 12 Juli 2020, akhirnya hari yang ditunggu pun tiba….

Yaitu hari di mana kateter yang terpasang di Gembul di lepas.

Kateter yang terdapat di alat kelamin Gembul juga dilepas dengan sedikit susah payah, karena Gembul sendiri gak mau duduk diam, bergerak terus, mengerang kesakitan mulu, tapi dokter Aulia menanganinya dengan sabar.

Namun setelah Gembul lepas kateter itu sampai hari Selasa tanggal 14 Juli 2020 Gembul masih dikurung, namun yang bikin heran itu kenapa gak kecium bau pesing dari kandangnya, di hari Selasa itu Gembul juga gak mau makan, badannya lemes lagi.

Akhirnya di malam harinya aku bawa lagi ke klinik La Femur, memang Gembul gak di kateter lagi, namun Gembul pipisnya dikeluarkan dengan cara memasang semacam jarum suntik gitu, terus akhirnya di sedot pipisnya keluar oleh dokter Sinawang.

Dan ternyata pipisnya sudah bercampur dengan darah, sehingga harus diperiksa lebih lanjut, aku disuruh buat datang lagi ke klinik hari Rabu 15 Juli 2020, pagi hari, supaya bisa bertemu dengan dokter Sandi.

Baiklah yang penting pipisnya Gembul sudah dikeluarkan dulu, karena tentu kalo gak dikeluarin pipisnya bakalan bisa bikin penyakit untuk Gembul.

Besoknya, Rabu, 15 Juli 2020, aku bawa Gembul ke klinik lagi di pagi hari, kebetulan ada dokter Sandy yang bisa nanganin Gembul, pipisnya gembul juga dikeluarkan lagi.

Gembul dipasang kateter lagi, namun disarankan untuk X-Ray di Rumah Sakit Hewan Unair.

Ya udah aku langsung bawa Gembul ke Rumah Sakit Hewan Unair untuk di X-Ray, sampai siang ternyata proses cuma buat proses X-Ray aja.

Jam 1 siang, akhirnya aku bisa pulang dari rumah sakit hewan.

Aku langsung menuju klinik lagi dan menunjukkan hasil x-ray tadi kepada dokter Sandy, ternyata ada pembengkakan pada bagian ginjalnya, ukuran ginjalnya Gembul sekarang udah 2 kali dari ukuran normalnya.

Mungkin itu yang menyebabkan Gembul mengalami kesulitan untuk pipis.

Gembul pun diberi resep untuk bisa melancarkan kencingnya lagi ditambah dengan obat untuk pendarahannya.

Sorenya setelah menebus obat, ternyata ada 3 obat racikan dan satu botol obat.

Yang bikin bingung ini obat botolannya, karena disarankan habis dalam 24 jam, sementara sekali minumkan itu 75 ml, dan itu dilakukan 3 kali sehari, sementara botolnya sendiri berisi 500 ml.

Tentu saja ini sangat ribet.

Di malam harinya, ternyata Gembul muntah-muntah, akhirnya aku sama ibuku langsung membawanya ke klinik lagi.

Ternyata dokter Sandy masih belum pulang, sehingga gembul bisa langsung ditangani oleh dokter Sandy.

Ada dokter Aulia juga di situ yang langusng menyiapkan botol infus untuk Gembul.

Gembul langsung disedot lagi pipisnya sama dokter Sandy sementara dokter Aulia menyiapkan infus sama segala macam yang diperlukan Gembul.

Semua peralatan yang dibutuhkan sudah siap, sekarang sudah waktunya untuk memasangkan infus ke kaki Gembul.

Ternyata di sini ada drama lagi, karena Gembul sendiri ternyata sudah hampir koma, sehingga pembuluh darahnya mengecil, serta kulitnya menjadi keras, sehingga jarumnya gak bisa masuk ke kulitnya gembul.

Aku sedih lihat situasi yang seperti ini.

Ada selusin jarum yang gak bisa masuk ke pembuluh darahnya Gembul.

Nyoba pasangnya gak cuma di kaki depan kanannya aja, melainkan di kaki depan kirinya, kaki belakang kanan, hingga kaki belakang kiri.

Akhirnya jarumnya baru bisa masuk di kaki belakang kiri.

Namun dengan segitu banyaknya jarum yang coba dipasang, tentu ini merupakan hal yang menyakitkan untuk Gembul, namun akhirnya infus berhasil terpasang dengan baik di kaki belakang kirinya.

Ya sudah, akhirnya dia dirawat inap di klinik, aku pun juga meninggalkan obat yang sudah aku tebus tadi sore agar obat tersebut bisa diberikan kepada Gembul.

Hari Kamis, 16 Juli 2020, pada saat jam makan siang aku datang ke klinik untuk melihat keadaannya Gembul, ternyata dia terlihat masih lemas.

Katanya pipisnya masih bercampur dengan darah, cuma kondisinya jauh lebih baik dibandingkan dengan hari Rabu kemarin.

Kalo Rabu kemarin warna pipisnya sampai benar-benar gak kelihatan seperti pipis, melainkan darah…

Untuk kali ini katanya pipisnya sudah berwarna pink sehingga masih bisa dibilang kalau dia sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Namun dia masih terlihat lemas sekali, aku datang dan jenguk dia, responnya Cuma melihat aku gitu aja, gak berdiri atau gimana.

Jumat, 17 Juli 2020.

Setelah Sholat Jumat, aku dan ibuku pergi buat jenguk Gembul, kebetulan juga ibu lagi gak ke sekolah karena sudah selesai dengan urusan kelas online yang ada di sekolahnya.

Begitu Gembul tahu kami datang, dia langsung berdiri, dokter Septian yang kebetulan lagi merawat Gembul pun kaget, karena dari selama dia menangani Gembul, Gembul sama sekali gak mau berdiri, dia Cuma duduk tiduran aja.

Setelah kami datang, ternyata dia mau berdiri.

dokter Septian menganggap sepertinya ini merupakan hal yang baik untuk Gembul.

dokter Septian pun menyarankan untuk kami agar coba untuk membawakan Gembul makanan kesukaannya agar Gembul mau makan.

Makanan kesukaannya Gembul adalah ikan mujaer atau ikan pindang.

Kami mengiyakan saran dari dokter Septian.

Gembul pun juga terlihat senang sekali ketika kami jenguk di sana.

Dokter Septian juga menanyakan berapa usia dari Gembul, aku jawab 16 tahun…

Katanya itu sudah termasuk tua sekali, karena selama dia jadi dokter hewan, rata-rata kucing yang dia tangani gak ada yang lebih dari 9 atau 10 tahun, sementara Gembul bisa 16 tahun, terus dia juga masih jadi jagoan, ya hitungannya termasuk greget sekali dia.

Sabtu, 18 Juli 2020.

Sabtu pagi aku dan ibuku pergi ke klinik untuk mengecek keadaannya Gembul.

Gak lupa juga, kami membawakan makanan berupa ikan mujaer beserta sedikit nasi untuk Gembul.

Ternyata setelah diberikan kepada Gembul, Gembul merespon dengan baik, dia mau makan dengan lahap makanan yang kami bawakan, walaupun makanan yang dimakan Cuma setengahnya aja.

Cuma aku dan dokter Sinawang menganggap kemungkinan ini adalah pertanda yang baik untuk Gembul, mungkin Gembul sebentar lagi akan sembuh dan bisa pulang.

Masalah pipis lupa gak ditanyakan, karena kami terlalu bahagia bisa melihatnya makan lagi.

Ya sudah akhirnya kami pulang.

Siangnya waktu aku mau tidur siang, ternyata ada telpon masuk…

Aku kira panggilan buat interview kerja, karena kondisiku sekarang lagi mencari kerja yang baru.

Namun ternyata bukan, ternyata dari klinik La Femur.

Dokter Sinawang yang telpon aku, katanya si Gembul kalo mau dibawa pulang sebenarnya sudah bisa, mungkin nanti sore mau diambil ya boleh.

Sorenya kami kembali ke klinik untuk memberikan makan sekali lagi.

Ternyata kali ini Gembul sama sekali gak mau makan, dia hanya terdunduk lemas di kandangnya.

Aku dan ibuku merasa sedih untuk hal ini.

Dokternya juga bingung kenapa kok dia sekarang gak mau makan lagi.

Udah gitu kok infusnya juga udah lepas dari kakinya.

Katanya juga pipisnya juga gak begitu berwarna merah lagi, jauh lebih pudar lagi warnanya.

Ya, seenggaknya gak pendarahan lagi aja sih.

Aku sama ibuku juga pengennya Gembul dibawa pulang kalo kondisinya sudah bener-bener sehat aja.

Dokter pun menyetujui permintaan kami, walaupun memang lebih disarankan buat dirawat jalan aja.

Karena khawatirnya kalo biayanya jadi bengkak.

Karena biaya rawat inap sendiri itu 65 ribu rupiah per harinya.

Hari Minggu, 19 Juli 2020

Pagi harinya aku dan ibuku kembali cek keadaannya Gembul, kami juga membawa suwiran ikan pindang untuk makannya Gembul.

Ternyata Gembul masih gak mau makan.

Ternyata dokter Sandy bersama dengan dokter Aulia sedang ada operasi Caesar untuk mengeluarkan bayi kucing yang gagal lahiran sehingga anak kucingnya mati di dalam perut.

Jadi aku dan ibuku sendirian lihat keadaannya Gembul.

Setelah sorenya, aku dan ibuku kembali ke klinik…

Kebetulan juga ada dokter Sandy yang lagi tugas, dia bilang kalo infusnya Gembul itu lepas karena dia kebanyakan gerak.

Dokter Sandy masih mau pasang infusnya lagi, masih terkendala dengan pembuluh darah yang masih susah buat dipasangi infus lagi.

Akhirnya Gembul cuma dikasih cairan infus melalui kulit dan itu dilakuikan sekitar 3 sampai 4 jam sekali.

Gembul pun juga coba untuk lepas kateter lagi sampai hari Senin malem, buat mastiin bahwa dia sudah gak bermasalah dengan kencingnya.

Senin, 20 Juli 2020

Sore hari aku dan ibuku pergi ke klinik untuk melihat keadaan Gembul.

Ternyata kondisi Gembul masih saja lemas, gak mau berdiri walaupun aku dan ibuku datangi.

Kami juga membawakan ikan pindang lagi, barangkali dia mau makan lagi.

Ternyata dia gak mau makan lagi, Cuma disarankan buat makanannya itu ditaruh di wadah makannya, ya udah aku taruh itu pindang di wadah makannya Gembul.

Kami dapet info kalo Gembul itu kesulitan buat dipasang infusnya lagi di kakinya, karena pembuluh darahnya susah buat dicari.

Aku ngerasa makin sedih denger berita ini.

Selasa, 21 Juli 2020

Pagi harinya aku dapat telpon dari dokter Sandy, karena hari ini kalo Gembul mau dibawa pulang bisa dibawa pulang, namun Gembul tetap pasang kateter.

Sementara aku tanya, “Apa dokter nanti ada di klinik?”, katanya shiftnya cuma dari malem sampai pagi

Gembul kali ini disinari pakai lampu yang cahayanya hangat sekali.

Ternyata suhu badannya Gembul drop sehingga harus dibantu dengan lampu supaya tetap membuatnya hangat.

Cuma kondisinya Gembul juga makin lemes, sehingga gak banyak yang bisa dilakukan.

Gembul juga akhirnya dipasang kateter lagi, karena memang kondisinya gak memungkinkan buat dia pipis dengan normal.

Rabu, 22 Juli 2020

Aku dan ibuku datang menggunakan mobil karena membawa kandang si Gembul, buat jaga-jaga kalo mungkin nanti gembul harus dibawa pulang, karena memang disarankan untuk rawat jalan saja dibandingkan dengan harus dirawat di klinik.

Gembul kondisinya makin lemes, badannya juga makin dingin.

Ibuku mencoba untuk membangun keakraban dengan dokter Aulia, sementara aku mengamati kondisinya Gembul.

Sedih rasanya lihat Gembul gak mau makan, maunya cuma tidur mulu, untuk minum dia juga termasuk males.

Makin bingung harus gimana agar gembul bisa merasa jauh lebih baik dibandingkan sekarang.

Sebelum pulang, aku bilang ke Gembul “Mbul kamu cepet sehat ya, biar kamu bisa cepet pulang sama bisa main-main lagi ya, kamu pasti bosen ya ada di kandang terus? Cepet sehat mangkanya supaya bisa main-main lagi”

Dokter Aulia juga mengamini ucapanku.

Dokter Aulia juga bilang kalo kondisi Gembul yang sudah tua gini udah gitu sakitnya juga begitu, semuanya tergantung sama Tuhan aja untuk kesembuhannya.

Aku lumayan sedih denger ucapannya yang seperti itu, namun memang gitu kenyatannya.

Kamis, 23 Juli 2020

Sore harinya kami datang ke klinik dengan membawa kandang, karena memang sudah niat untuk dibawa pulang.

Walaupun sebenarnya aku sendiri masih khawatir bakalan gak bisa ngurus Gembul karena gembul harus diberi larutan setiap beberapa jam sekali.

Gembul juga kebetulan juga lagi dikasih makan, jadi bisa lihat caranya gimana ngasih makannya.

Sama dokter juga langsung dikasih resep obat yang nantinya harus diberikan kepada gembul lagi.

Namun tentu masalah cairan juga menjadi masalah utama di sini.

Karena Gembul harus dikasih cairan obat, mungkin semacam oralit atau apa aku gak paham juga, itu harus diberikan sebanyak 200 ml setiap harinya.

Disarankan dibagi dua aja pemberiannya, yaitu pagi 100 ml, sementara sore 100 ml.

Diajarin juga gimana cara untuk ngasih makan.

Pada saat mau membayar sisa tagihan gembul, ternyata tagihan yang sudah jadi itu salah.

Aku tahu kalau tagihannya salah karena di hari Rabu kemarin sudah dikasih tahu kalo harus mengeluarkan dana sekitar 320 ribu untuk sisa rawat inapnya Gembul, namun di tagihan yang kami terima itu kok kami cuma disuruh bayar 170 ribu.

Karena kondisi klinik yang juga lagi ramai, akhirnya aku dan ibuku disuruh nunggu dulu mereka menangani pasien.

Pada saat menunggu itu Gembul juga sudah dipindahkan ke dalam kandang yang sudah kami bawa.

Waktu menunggu itu, gak disangka-sangka kalo Gembul ternyata muntah-muntah.

Berhubung yang jaga ada 2 dokter, yang satu masih ngurusin pasien, sementara yang satu lagi masih ngurusin binatang-binatang yang dirawat inap di situ, aku akhirnya bilang ke dokter yang lagi ngasih makan kalo Gembul muntah-muntah.

Akhirnya alas yang dipakai Gembul dibersihkan, terus Gembul dikasih suntikan untuk ngurangi mualnya dia.

Dia juga gak dikasih makan lagi, mungkin karena posisi perutnya masih gak enak.

Dia gak mau makan lagi, ya sudah gak apa.

Sekitar 10 menit kemudian, akhirnya dokter yang nangani pasien sudah selesai ngurus semua pasien yang datang ke klinik.

Akhirnya dibikinkan nota yang baru, sehingga ibuku bisa membayar tagihan dengan semestinya.

Tak lupa juga aku diberi beberapa suntikan tanpa jarum yang nantinya bisa digunakan untuk memberi gembul obat, cairan, dan makanan.

Aku juga diberikan resep obat yang harus ditebus.

Ya satu sisi aku deg-degan juga terima resep dari dokter ini, bingung nanti gimana cara minuminnya ke dia, tapi ya udah lah, Gembul mungkin akan jauh ngerasa lebih baik kalo dirawat di rumah.

Ada 3 obat yang harus diberikan ke Gembul, kalo ditambah dengan cairan itu dianggap sebagai obat, berarti obatnya ada 4.

Pulang dari klinik, kami langsung pergi ke Apotek Kimia Farma yang terdapat di dekat rumah.

Sayangnya salah satu dari 3 obat racikan itu gak ada, jadi harus cari di apotek lainnya.

Ya sudah lah, gak apa, kita cari apotek lainnya waktu agak maleman aja, mungkin di Kimia Farma lain atau mungkin di K24 ada, yang penting sekarang bawa Gembul pulang dulu, dia pasti pengen bisa tidur di rumah, bukan di mobil.

Setelah sampai rumah, Gembul langsung aku taruh di ruang tamu, karena kemaren-kemaren waktu dia belum rawat inap juga aku taruh kandangnya di ruang tamu.

Gak lupa aku kasih dia wadah minum, barangkali dia pengen minum setelah kehausan di jalan, apalagi dia juga sempat muntah.

Setelah Isya, aku dan ibuku langsung pergi ke Kimia Farma untuk ambil obat sama cari obat yang gak ada di Kimia Farma yang ada di dekat rumah.

Gak tahu juga habisnya obat buat Gembul ini berapa, karena aku gak ikut masuk ke dalam Kimia Farma, karena jengkel aja gitu disuruh bayar parkirnya, pake yang jaga parker gak pernah bantuin aku buat keluar-masukin kendaraan.

Oke, ibu sudah dapet obat yang pertama dan ketiga, tinggal obat yang kedua aja yang belum dapet, akhirnya coba ke Kimia Farma lainnya barangkali ada, ternyata gak ada…

Dikasih tahu juga kalo obat yang kedua itu gak ada di seluruh Kimia Farma yang ada di Surabaya, gak tahu juga kapan obatnya ada lagi.

Ya sudah, akhirnya cari Apotek K24, barangkali emang obatnya ada di sana, dan ternyata beneran ada di sana dong obatnya.

Obatnya ternyata juga gak terlalu mahal, cuma 12 ribu untuk 12 butir.

Ibuku penasaran obat itu fungsinya untuk apa, ternyata fungsinya adalah untuk memperlancar kencingnya.

Ya sudah, akhirnya bisa pulang ke rumah.

Gak langsung dikasih minum obatnya, karena Gembul sendiri udah minum obat buat hari ini kalo inget kata dokter tadi sore.

Ya udah akhirnya mutusin buat pagi aja ngasih obatnya, setelah dia dikasih makan.

Sebelum tidur, aku luangin waktu sebentar buat elus-elus Gembul, bilang ke dia kalo aku sayang banget sama dia, minta dia cepet sehat lagi supaya bisa main-main lagi,.

Terutama buat bisa bebasin Gembul lagi, karena dia tentu gak suka buat dikurung kayak gitu.

Jumat, 24 Juli 2020

Pagi harinya, aku baru aja bangun tidur, langsung tempat pertama yang aku tuju adalah kamar mandi, setelah itu dapur.

Apalagi kalo bukan untuk pipis sama ambil air putih.

Gak lama setelah minum, ternyata ibu nyamperin aku, kelihatan panik…

Ibu bilang kalo Gembul udah gak ada…

Aku gak percaya kalo Gembul akhirnya udah nyerah sama sakitnya, aku langsung cek dia di kandangnya, aku raba hidungnya ternyata gak nafas…

Sementara aku cek dadanya udah gak ada denyutnya…

Aku harus terima kenyataan kalo Gembul sudah gak ada setelah nemenin aku selama kurang lebih 16 tahun…

Di saat kucing lain biasanya Cuma 9 sampai 10 tahun, Gembul bisa sampai 16 tahun.

Kalo diibaratkan seperti manusia, mungkin Gembul usianya sudah 128 tahun, sebuah usia yang sangat lah tua.

Gak tahu juga kenapa aku gak bisa nangis lihat Gembul udah nyerah sama sakitnya, mungkin karena sudah lebih siap gara-gara dikasih tahu dokter Sandy waktu Gembul hampir koma itu.

Ya, Gembul sudah berusaha dengan baik.

Sekarang waktunya Gembul buat nemenin Bapak di alam sana.

Bukan gak mungkin juga kalo Gembul nungguin aku di sana karena Gembul suka banget kalo aku ajakin main, walaupun mainnya cuma elus-elus badannya aja.

Gembul pun dikuburkan di tanah yang ada di pojok rumah.

Tulisan ini ditulis dair tanggal 24 sampai dengan 26 Juli 2020, dari Kamis sampai Minggu.

Mestinya hari Minggu ini dokter Sandy sama dokter Aulia pasti nungguin banget kabarnya Gembul gimana, tapi ternyata Gembul gak bisa bertahan dan mereka masih belum mengetahui hal ini.

Semoga dengan tulisan ini bisa mewakili untuk menyampaikan apa yang terjadi ke Gembul ke dokter Sandy, dokter Aulia, dan semua dokter yang pernah nanganin Gembul.

Gembul, kamu tahu kan kalo aku sayang banget sama kamu…

Aku pengen bisa ngerasain peluk kamu lagi, denger suaramu, elus kamu lagi…

Aku tahu kamu pasti juga sedih harus ngelihat aku patah hati seperti ini, tapi memang aku gak bisa bohongi perasaanku sendiri.

Semoga kita bisa ketemu lagi ya waktu di akhirat, aku kangen banget sama kamu, Mbul…

Tinggalkan komentar